SINFORAN | Mengucapkan Jazakallahu khairan katsiran a'la ziyaratikum | Baca kisah |
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
Tampilkan postingan dengan label Metodologi Studi Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metodologi Studi Islam. Tampilkan semua postingan

Doktrin Kepercayaan dalam Islam















Bab 9 Doktrin Kepercayaan dalam Islam

A. Iman kepada Allah
Kalimat laa ilaha illa Allah atau biasa disebut dengan kalimat thayyibah adalah kalimat yang tertinggi di dunia ini yaitu tidak mengakui adanya Tuhan selain Allah saja. Kalimat laa ilaha illa Allah selalu diucapkan manusia pada tiap sholatnya hal ini menunjukkan betapa agungnya kalimat di atas. Kita sebagai manusia wajib meniadakan Tuhan selain Allah azza wa jalla. Karena Tuhan selain Allah maka Tuhan tersebut bathil dan tidak layak untuk disembah.

B. Kemustahilan menemukan Zat Allah
Allah Maha Esa dalam segala hal yang ada di jagat raya ini. Esa berarti tidak ada yang mampu menyerupainya baik dalam sifat maupun perbuatannya. Allah dengan sifat-Nya Ar-Rahman dan Ar-Rahim telah mebekali manusia dengan akal dan pikiran. Itulah keistimewaan manusi dibanding dengan makhluk yang lainnya yang ada di dunia ini. Namun manusia dengan akal dan pikirannya ingon menmukan bagaimana zat Allah yang sesungguhnya. Maka manusia sampai kapanpun tidak akan bisa melihat Allah di dunia ini. Akal dan pikiran manusia tidak akan sampai dan sungguh tidak akan mampu menyaingi kekuasaan Allah dalam ilmunya.

C. Argumen keberadaan Allah
Ada tiga teori yang menjelaskan asal kejadian alam semesta ini. Teori yang pertama adalah teori yang sudah sangat tidak relevan yakni teori sebab akibat. Dengan tori ini maka dapat disimpulkan alam semesta ini tidak akan ada kecuali ada yang menciptkannya. Al-Farabi dengan teori emanasi-nya mengatakan alam semseta ini adalah hasil pancaran dari wujud kesebelas atau akal kesepuluh. Jika diurut secara vertikal, maka akal kesepuluh itu secara hirarki adalah kelanjutan darimakal-akal sebelumnya yang pada asalnya berasal dari akal yang pertama.
Teori yang kedua mengatakan bahwa alam semesta berasal dari sel. Sayid Sabiq melihatnya toeri ini lebih sesat dari teori yang pertama karena tidak mungkin sel dapat membangun dan memperindah sesuatu dengan sendiri hingga menjadi alam semesta ini. Dan teori yang ketiga mengatakan bahwa semesta berasal dari yang menciptakan bersesuaian dengan akal sehat manusia. Maka dari itu teori yang ketiga ini dpat diterima, namun adalah masalah yang muncul dalam akal sehat ini yaitu siapakah yang menciptakan alam semesta ini?Menurut akidah islam yang menciptakan alam semsta ini yaitu Allah. Hal itu menyatakan bahwasanya Allah itu ada.
Ada beberapa argumen yang menguatkan pernyataan dari teori yang ketiga ini diantaranya argumen ontologis, argumen teleologis,argumen moral,dan argumen epitimologis. Argumen ontologis seperti yang diangkat oleh Plato yakni dalam alam ini pasti mempunyai idea. Idea adalah konsep universal dari sesuatu.
Dengan argumen teleologis artinya diatur menurut tujuan-tujuan tertentu. Alam dalam pandangan argumen ini ialah alam ini tersusun dari bagian-bagian yang erat sekali hubungannya. Bagian tersebut saling berhubungan dan saling bekerja sama atau berevolusi dengan memiliki tujuan tertentu.

ANANDA RIDHO



















Al-Qur'an sebagai Sumber Agama Islam













Resume buku Metodologi Studi Islam (Bab 6), oleh Agus Suranto

BAB 6
Al-Qur'an sebagai Sumber Agama Islam

A. FUNGSI AL-QUR'AN
Subhi Sholih mengemukakan bahwa Al-Qur'an berarti bacaan. Ia merupakan kata turunan dari kata qara'a dengan arti ism al-maf'ul, yaitu maqru' yang artinya dibaca. Pengertian ini merujuk pada firman Allahk :
“Sesungguhnya atas tangguhan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuat kamu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya, maka ikutilah bacaan itu.” (QS al-Qiyamah: 17-18)
Selanjutnya kata al-Qur'an digunakan untuk menunjukkan kalam Allahkyang diwahyukan kepada Nabi Muhammad n, adapun kalam Allahkyang diwahyukan kepada para Nabi selainya, maka tidak dinamakan al-Qur'an.
Fath Ridwan menyebutkan ikhtilaf ulama' tentang penamaan al-Qur'an: Pertama, al-Qur'an adalah nama khusus untuk wahyu Allahkyang diberikan kepada nabi Muhammad n. Kedua, nama diambil dari kata qoro'in (petunjuk atau indikator) atau dari kata al-qor'u (kumpulan). Ketiga, ulama' yang memberikan nam-nama lain bagi al-Qur'an, seperti al-kitab, an- nur, ar- rohmah dll.
Adapun Abu Hasan al-Haroli dan Abd al-Ma'ali Syizalah masing-masing memberikan nama bagi al-Quran sebanyak 90 dan 55 macam. Menurut Shubhi Sholih penamaan yang begitu banyak akan menimbulkan pencampuradukan antara nama-nama dan sifat-sifat al-Qur'an sehingga ia kurang setuju dengan hal itu.
Fungsi al-Qur'an sesungguhnya telah tersirat pada nama-nama tersebut, diantaranya:
a. al-Huda (petunjuk). Dalam fungsi ini ada tiga kategori, pertama, al-Qur'an sebagai petunjuk manusia secara umum (al-Baqoroh:185). Kedua, al-Qur'an petunjuk bagi orang -orang yang bertakwa (al-Baqoroh:2). Ketiga, petunjuk bagi orang-orang yang beriman (Fushilat: 44 dan Yunus: 57).
b. al-Furqon (pembeda). Disebutkan dalam al-Qur'an bahwa ia adalah pembeda antara yang hak dengan yang batil (QS. al-Baqoroh :185)
c. al-Syifa (obat). Al-Qur'an juga sebagai obat penyakit dalam dada/psikologis (QS. Yunus:57)
d. al-Mauidzoh (nasihat). Al-Qurann juga sebagai nasihat bagi orang-orang yang bertakwa (QS.Ali Imron: 138)
Demikian fungsi al-Quran yang diambil dari al-Quran itu sendiri, adapun fungsi al-Quran yang diambil dari penghayatan seseorang, maka itu tergantung dengan kualitas ketakwaan orang itu sendiri.
B. AL-QUR'AN SEBAGAI FIRMAN ALLAH
Ulama menyebutkan bahwa hakikat al-Qur'an adalah kalam Allahkyang disampaikan kepada nabi Muhammad n. Al-Quran penuh dengan ilmu dan bebas dari keraguan (QS al-Baqoroh:2), kecurangan (QS An-Naml:1), pertentangan (QS. an-Nisa': 82), dan kejahilan (QS asy-Syura:210).
Al-Quran itu murni firman Allahkdan bukan ciptaan Muhammad n. Allahkmenantang dan mengancam siapa saja yang meragukan atau menentang otentisitas al-Quran sebagai firman Allahk dalam surat al-Baqoroh: 23-24.
Ada pula manusia yang meragukan dan menganggap bahwa al-Quran telah diintervensi manusia, kemudian Allahkmenjamin bahwa al-Quran itu terpelihara dengan sebaik-baiknya (QS. Al-Hijr: 9)-.
C.'ULUM AL-QUR'AN DAN TAFSIR
Al-Quran diturunkan secara bertahap dan ia tidak hampa dari sosial, sehingga banyak dijumpai ayat yang turun sebagai jawaban dari permasalahan manusia. Proses pewahyuan berlangsung 23 tahun, 13 tahun di Makah sebelum nabi n hijroh ke Madinah, dan 10 tahun setelah nabi hijroh ke Madinah.(Muhaimin dkk, 1994;89)
M. Quraish Shihab (1995; 35-38) membagi proses pewahyuan menjadi tiga periode. Pertama, periode saat Muhammad n bersetatus Nabi dengan diterimanya surat al-Alaq, kemdian menjadi rosul setelah menerima QS al-Muddatsir 1-2. Inilah ayat-ayat makiyyah yang mengandung tiga hal yaitu pedidikan bagi rosul, pengetahuan tentang Allahk , dan ajaran tentang dasar-dasar akhlak islamiyah.
Kedua, periode pertarungan antara umat islam dengan orang jahiliyah sekitar 8-9 tahun. Hal ini ada dalam surat an-Nahl: 25, Fushilat: 13, Yasin 78-82.
Ketiga, peride kebebasan umat islam di Madinah yaitu sekitar 10 tahun, ayat-ayat yang turun disebut ayat madaniyyah.
M. Quroish Shihab menyebutkan bahwa al-Qur'an mengandung 77.439 kata dan 323.015 huruf. Menurut Abd al-Rohman as-Salami, al-Suyuti, dan al-Lusi secara berturut-turut jumlah ayat al-Qur'an adalah 6.326 ayat, 6000 ayat, 6.616 ayat. Perbedaan disebabkan masuk dan tidaknya kalimat basmalah dan fawatir al-suwar. Kemudian Jumlah ayat dibagi jadi 554 ruku', 30 juz dan 114 surat.
Dilihat dari panajg pendknya dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:
  1. Al-Sab'al tiwal, yaitu tujuh surat panjang seperti al-Baqoroh, ali Imron, an-Nisa', al-A'rof, al-An'am, al-Maidah, dan Yunus.
  2. Al-Mi'un, surat-surat yang memuat 100 ayat lebih seperti surat Hud, Yusuf, dan al-Mu'min.
  3. Al-Matsani, surat yang kurang dari 100 ayat seperti al-Anfal dan al-Hijr.
  4. Al-Mufashol, surat-surat pendek seperti an-Nas, al-Falaq, dan al-Kafirun.
Cara turunnya wahyu ada empat macam, yaitu:
  1. Malaikat memasukan wahyu kedada nabi Muhammad n.
  2. Malaikat datang dengan bentuk seorang laki-laki kepada Muhammad n.
  3. Malaikat menampakkan dirinya dengan rupa aslinya.
  4. Wahyu datang kepada nabi seperti gemerincing lonceng.
Pada masa nabi n al-Qur'an hanya di tulis di pelepah kurma, lempengan batu, dan kepingan tulang serta dihafal, hingga datang masa khulfaurrosyidin al-Qur'an dibukukan. Pada masa Abu Bakar baru proses pengumpulan dalam bentuk mushaf dan disimpan di rumah Abu Bakar. Pada zaman Umar bin Khotob mushaf disimpan di rumahnya dan setelah belilau meninggal dunia disimpan di rumah Hafsoh. Hingga datang zaman Utsman bin Affan al-Quran baru disempurnakan dan disebut dengan mushaf utsmani. Kemudian digandakan dan dikirim ke berbagai wilayah kaum muslimin dan dijadikan standar untuk pencetakan pada tahun-tahun setelahnya.
Beralih ke kandungan ayat, menurut tim yang dibentuk oleh Departemen Agama Republik Indonesia (1985; 84-85) al-Qur'an mengandung pesan-pesan tentang tauhid, ibadah, jalan kebahagiaan dunia akhirat dan cerita tentang sejarah orang-orang terdahulu.
Diliahat dari sisi jalas dan tidaknya, para ulama mengelompokkan ayat-ayat al-Qur'an menjadi dua; ayat-ayat yang jelas (muhkamat) dan yang membutuhkan tafsiran lebih lanjut (mutasyabihat).
Adapun pengertian tafsir secara bahasa adalah penjelasan dan keterangan (al-idlah wa al-bayan) (Muhammad Husaeni al-Dzahabi, 1976:13). Dia berasal dari wazan taf'il dari kata fassara yang berarti menerangkan, membuka dan menjelaskan makna yang ma'qul. (Manna' al-Qathan, 1981:227). menurut Abu Haya, tafsir secara istilah adalah ilmu yang membahas cara melafalkan lafad-lafad al-Qur'an serta menerangkan makna yang dimaksudnya sesuai dengan dilalah (petunjuk) yang dzohir sebatas kemampuan manusia.
Adapun fungsi tafsir adalah untuk mejelaskan segala yang disyariatkan oleh Allah kepada manusia untuk ditaati dan dilaksanakan.(abd al-Hayyi al-Farmawi, 1977:16)
Seorang mufassir (orang yang menafsirkan al-Quran) harus mengetahui dan memahani bahasa arab dengan segala isinya, mengetahui ilmu sebab turun (asbabun nuzul), ilmu qiroah, ilmu tauhid, ilmu nasikh dan mansukh, dan mengetahui hadits- hadits nabi n. (Kafrawi Ridwan dkk, 1994: 30)
Seoarng mufassir juga harus punya i'tiqod yang kuat, keikhlasan dan kemurnian tujuan, mendasarkan tafsirnya kepada al-Sunah, dan punya wawasan yang luas di berbagai ilmu bantu seperti bahasa arab dan yang lainnya.
Quraish Shihab membagi periode tafsir kepada dua bagian. Pertama, periode nabi n, sahabat, dan tabi'in kira-kira sampai tahun 150 H yang di sebut dengan tafsir bi al-ma'tsur. Departemen Agama Republik Indonesia menyebut periode pertama ini dengan periode mutaqoddimin dan berlangsung dari masa nabi n sampai kira-kira abad 4 H. Dari para ahli tafsir periode ini diantaranya adalah Ibnu Mas'ud, Abdullah bin al-Abbas, Zaid bin Tsabit dll.
Selanjutnya pada masa Tabi'in diantaranya adalah Abdurrohman bin Salam, Imam Malik bin Anas di Madinah, kemudian datang masa selanjutnya yaitu masa tabi'ut tabi'in, diantara mereka yang terkenal adalah Sufyan bin Uyyainah, Zaid bin Harun Syu'bah bin Hajjad, dan Waqi' al-Jarroh hingga muncul pula Abu Ja'far Muhammad bin Jarir at-Thobari (w.310 H) dengan buku beliau Jami'at al-Bayyan fi Tafsir al-Qur'an.
Kedua, periode ketika hadits-hadits Rosul n telah tersebar luas dan hadits-hadits palsu berkembang di masyarakat. Para ulama' tafsir kemudian banyak berijtihad karena permasalahan adanya hadits palsu ini, hingga munculah tafsir-tafsir yang coraknya berbeda dari corak yang pertama. (M Quroish shihab: 1995; 72) Departemen Agama Republik Indonesia menyebut periode ini denagan periode mutaakhirin berlangsung dari abad 4-12 H.
Corak tafsir yang muncul pada periodae ini diantaranya sebagai berikut.
  1. Corak kebahasaan, yaitu penafsiran al-Qur'an dengan pendekatan gaya bahasa, keindahan bahasa, atau tata bahasa, seperti Tafsir al-Kasysyaf oleh Zamaksyari.
  2. Corak tafsir yang banyak membahas tentang kisah umat terdahulu, seperti yang ditulis oleh al-Tsalabi, 'Alaudin bin Muhammad al- Bagdadi.
  3. Corak fikih dan hukum, seperti Tafsir Jami' al-Qur'an, Ahkam al-Qur'an, dan Nail al-Mahrom yang masing-masing ditulis oleh al-Qurtubi, Ibnu 'Arobi dan al-Jashash, dan Hasan Shidiq Khan.
  4. Corak tafsir yang menafsirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah seperti Tafsir Mafatih al-Ghoib karya Imam ar-Rozi (w.610 H)
  5. Corak tafsir yang menitikberatkan pada isyarat ayat yang berhubungan dengan tasawuf, seperti tafsir yang ditulis oleh Abu Muhammad Sahl bin Abdullah al-Tsauri.
  6. Tafsir corak ghorib (yang jarang dipakai dalam keseharian), seperti Mu'jam Ghorib al-Qur'an oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi'.
Quraish Shihab menambahkan beberapa corak lainnya yaitu, tafsir bercorak filsafat dan teologi, tafsir ilmiyah, tafsir bercorak sastra budhaya kemasyarakatan, tafsir tematik (maudlu'i), dan tafsir ilmi.
Dalam peride ini muncul pula tafsir dari Muktazilah dan Syi'ah. Dari kelompok Muktazilah diantaranya Tanzih al-Quran al-Mata'in karya Abdul Qosm al-Thahir, al-Kasysyaf 'an Haqaiq al-Tanzil wa al-Uyun al-Aqwal fi Wujud at-Ta'wil karya abul Qosim Muhammad bin Umar al-Zamakhsyari. Adapun kelompok syi'ah mereka banyak membahas tetang Ali bin Abi Tholib.
Departemen Agama Republik Indonesia menambahkan adanya periode ketiga yang disebut dengan Periode Baru yang dimulai dari abad 9 M. Periode ini juga dikenal dengan Periode Kebangkitan Kembali. Diantara tokohnya adalah Jamaluddin al-Afghoni, Muhammad Abduh, Rosyid Ridho, Ahmad Khan, dan Ahmad Dahlan.
Dilihat dari keterlibatan ro'yu dalam menafsirkan al-Quran, maka tafsir terbagi menjadi dua, tafsir bi al-matsur dan tafsir bi al-ro'yi. Tafsir kelompok pertama di antaranya ialah Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an karya at-Thobari. Adapun tafsir kedua (bi al-ro'yi ) di antaranya al-Bahru al-Muhith karya andalusi, dan Mafatih al-Ghorib karya Fakhruddin al-Rozi.


















Peran Islam dalam kehidupan manusia













RESUME
pada bab ini kita berbicara dua topic yang berbeda, yang pertama: Islam sebagai agama (peran agama Islam dalam kehidupan dan apa yang diajarkan Islam keseluruh dunia). Kedua: Islam dan agama lain, sumbangan Islam terhadap kemanusiaan masa kini. Sebagian materi ini telah dibahas pada bab I. Oleh karena itu, bagian ini secara khusus membahas peran Islam dalam kehidupan manusia.
  • Menurut Emile Durkheim(1858-1917), ahli sosiologi dari Perancis, memperkenalkan masyarakat organis. Durkheim percaya bahwa norma-norman akan terancam oleh pembagian kerja yang berlebihan. Dalam pandangan nya, masyarakat praindustri disebut masyarakat mekanis, individu-individu menjalankan perannya masing-masing: sebagai ayah, suami, pemburu, pendeta dan yang lainnya. Semua peran atau fungsi itu diteruskan dari generasi kegenerasi dengan perubahan sekecil mungkin. Sebaliknya masyarakat modern adalah masyarakat organis, produk pembagian kerja dan diferensiasi yang dihasilkan oleh proses industry. Masyarakat organis bersifat inovatif dan kompleks. Agama, dalam pandangan Emildurkheim, meliputi semua kehidupan dalam masyarakat pertama, tetapi tempatnya menjadi lebih terbatas dalam masyarakat kedua. (david e. apter, 1988:377)
  • Dalam rangka membuktikan peran agama Islam dalam kehidupan sosial, kita memerlukan beberapa komponen yang menurut saya penting:

a) Hubungan Tauhid Dengan Ilmu Pengetahuan.
Dari segi kebudayaan, agama merupakan universal cultural; artinya terdapat disetiap daerah kebudayaan dimana saja masyarakat dan kebudayaan itu berada, Allah berfirman:
dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepada anaknya: hai anakku, jangan kamu mempersekutukan Allah; sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.
Perintah mengesahkan tuhan mengandung arti bahwa manusia hanya boleh tunduk kepada tuhan. Ia tidak boleh tunduk kepada selain-Nya karena ia adalah puncak ciptaan-Nya(nurcholis majid, 1998:18).

Allah berfirman:
Allahlah yang menunjukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan izin-nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur (QS. al-jatsiyah[45]:12)
dan Allah berfirman :
… maha suci tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya (QS. al-zukhruf[43]13).
Konsekuensi dari tauhid adalah bahwa manusia harus menguasai alam dan haram tunduk kepada alam. Menguasai alam berarti menguasai hukum alam; dan dari hukum alam ini, ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan.

b) Paradigma Ilmu-Ilmu Islami
Allah berfirman:
“sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air , lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kamu yang memikirkan. ”
Mengenal dan beriman kepada Allah dapat dilakukan melalui tanda –tanda yang diberikan-nya, melalui diri kita sendiri, jagat raya, wahyu, ataupun benda-benda lainnya.
Manusia yang hendak menyingkap rahasia Allah melalui tanda-tanda-nya berupa jagat raya, menggunakan perangkat berupa ilmu-ilmu fisik, seperti ilmu fisika, kimia, sosiologi, ekonomi dan sebagainya. Dengan demikian, jalur manapun yang digunakan manusa dalam rangka menyingkap tabir kekuasaan-nya, akan melahirkan manusia yang semakin dekat dengan tuhan, paradigma ini sekaligus merupakan jawaban terhadap dikotomi ilmu agama dan ilmu non agama. pada dasarnya ilmu agama dan ilmu non agama hanya dapat dibedakan untuk kepentingan analisis, bukan untuk dipisahkan apalagi dipertentangkan.
c) Ilmu Eksakta Ditangan Umat Islam.
Ilmu eksakta yang dimaksud disini adalah ilmu-ilmu yang membahas masalah-masalah yang bersifat empiris dan bersifat”pasti.” Dalam beberapa literatur dijelaskan mengenai sumbangan umat Islam terhadap matematika, anstronomi, kimia , optic
1. Matematika
Diantara tokoh yang paling masyhur dalam bidang matematika adalah Khawarizmi. Dialah yang menulis buku ilmu hitung dan aljabar .
Juga Umar al-Khayam dan al-Thusi adalah ulama yang terkenal dalam bidang ilmu matematika. Angka nol adalah ciptaan umat Islam . Pada tahun 873 m. Angka nol telah dipakai di dunia Islam.
2. Astronomi
Di dunia Islam yang terkenal ilmunya dalam bidang astronomi adalah Umar Khayam dan al-Farazi. Mereka menulis buku-buku tentang astronomi yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin untuk kemudian diajarkan di Eropa.
3. Kimia
Ulama muslim yang terkenal dalam bidang kimia adalah Jabir bin Hayyan dan Zakaria al-Arazi yang dikenal di Eropa dengan sebutan Gaber dan Rhazes.
Pada zaman kejayaan Yunani, kimia banyak dibangun berdasarka spekulasi. Sedangkan pada zaman kejayaan Islam, kimia dikembangkan atas dasar percobaan dan eksprimen.

4. Optik
Ulama yang terkenal dalam bidang optik adalah Ibnu Haitsam, yang berpendapat bahwa benda dapat dilihat karena benda mengirim cahaya ke mata, dan pernyataan ini dibenarkan oleh pengetahuan modern.
d) Sains Dunia Islam Masa Kini.
Sains di dunia Islam sekarang ini sangat menyedihkan. Nurcholis Madjid (1998:9) menyatakan bahwa dunia Islam merupakan kawasan bumi yang paling terbelakang diantara penganut-penganut agama besar. Umat Islam sangat terbelakang dalam bidang sains dan ketinggalan oleh Eropa Utara, Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru yang memeluk Protestan; oleh Eropa Selatan dan Amerika Selatan yang menganut Khatolik Romawi; oleh Eropa Timur yang menganut khatolik Ortodoks; oleh Israel yang menganut agama Yahudi; oleh India yang mayoritas memeluk agama Hindu; oleh Cina, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura yang menganut agama Budha-Konfusianis; oleh Jepang yang menganut agama Budha-Taois;dan oleh Thailand yang menganut agama Budhis. ”jadi, ”tegas Nurcholis Madjid, ” tidak ada satupun agama besar dimuka bumi ini yang lebih rendah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya daripada Islam. ”Tugas kita sekarang adalah menangkap kembali ajaran Islam yang otentik dan dinamis sehingga mendorong akselerasi kebangkitan penguasaan ilmu-ilmu eksakta sehingga umat Islam terhindar dari kemunduran, sebagaimana slogan Bung Karno: ”kita harus mampu menangkap api Islam dan meninggalkan abunya. ”




Ringkasan dari buku Metodologi Studi Islam, karya Drs. Atang Abd. Hakim, MA., Dr. Jaih Mubarok, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya Offset, cet. x, 2008),
Ditulis oleh teman seperjuangan:
Abdul Hamid  hafidzohullahu ta'ala




















ISLAM DAN AGAMA-AGAMA 2













BAB 1
ISLAM DAN AGAMA-AGAMA

A. ISLAM DALAM WACANA AGAMA-AGAMA

Dalam studi keagamaan sering dibedakan antara kata religion dengan kata religiosity. Dan di dalam Alquran terdapat tuntunan yang banyak membicarakan realitas tertinggi yang menunjukkaan secara filosofis,tidak mau menerima kebenaran selainnya. Namun disisi lain (sosiologis), ia juga dengan sangat toleran menerima kehadiran keyakinan lain (lakum dinukum wa liy al-din). Di samping itu, para pemikir muslim cenderung moderat dan sangat toleran.
Menurut Bambang sugiharto, tantangan yang dihadapi setiap agama sekarang ini sekurang-kurangnyaada tiga. Pertama, dalam menghadapi persoalan kontemporer yang ditandai dis-orientasi nilai dan degradasi moralitas, agama ditantang untuk tampil sebagai suatu moral yang otentik. Kedua, agama harus menghadapi kecenderungan pluralisme, mengolahnya dalam kerangka “teologi” baru dan mewujudkannya dalam aksi-aksi kerja sama plural. Ketiga, agama tampil sebagai pelopor perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. (Bambang Sugiharto dalam Andito (ed.), 1998: 29-30).
B. SIGNIFIKANSI STUDI ISLAM

Dari segi tingkatan kebudayaan agama merupakan universal cultural. Dan secara umum, studi Islam menjadi penting karena agama, termasuk Islam, memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat.
Harun Nasution berpandangan bahwa, orang yang bertakwa adalah orang yang melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian, orang yang bertakwa adalah orang yang dekat dengan Tuhan, dan yang dekat dengan Yang Maha Suci adalah “suci”, orang-orang yang sucilah yang mempunyai moral yang tinggi. Studi islam diharapkan melahirkan suatu masyarakat yang siap hidup toleran dalam wacana pluralitas agama, sehinggatidak melahirkan muslim ekstrim yang membalas kekerasan agama dengan kekerasan pula; pembakaran masjid dibalas dengan pembakaran gereja, dan semisalnya. Oleh karena itu studi Islam sangat penting untuk dilakukan.

C.PERTUMBUHAN STUDI ISLAM DI DUNIA

Pendidikan Islam pada zaman awal dilaksanakan di masjid-masjid. Dan pada zaman kejayaan Islam, studi Islam di pusatkan di ibukota negara,yaitu baghdad. Disamping itu di Eropa terdapat pusat kebudayaan yang merupakan tandingan baghdad, yaitu universitas cordova yang didirikan oleh Abd al-Arrohman III (929-961 M.).
Studi Islam sekarang ini berkembang hampir di seluruh negara di dunia, baik di dunia Islam maupun bukan di negara Islam. Di dunia islam terdapat pusat-pusat studi Islam, seperti Universitas Al-azhar di Mesir dan Universitas Ummul quro di Arab saudi di Teheran didirikan Universitas Teheran. Adapun di Indonesia, studi Islam (pendidikan Islam tinggi) dilaksanakan di 14 Institut Agama Islam Negri (IAIN) dan 39 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN). Ada juga beberapa sekolah dan perguruan tinggi swasta yang secara khusus menyelenggarakan pendidikan tinggi Islam. Serta studi Islam di Negara-negara non-Islam di selenggarakan di beberapa negara, di antaranya: Aligarch University (India), Chicago University (Chicago), Los angeles, London dan kanada.
Begitulah studi Islam sejak zaman awal pembentukan Islam hingga sekarang ini.


Ringkasan dari buku Metodologi Studi Islam, karya Drs. Atang Abd. Hakim, MA., Dr. Jaih Mubarok, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya Offset, cet. x, 2008),
Ditulis oleh teman seperjuangan:
Eko Yuriza  hafidzohullahu ta'ala



















Islam dan Agama-Agama













Ringkasan buku Metodologi Studi Islam ( bab 1, hal 3-12)
oleh: Abbad Arrybath Brimantyawan (2010120020002)

Islam dan Agama-Agama

Mencakup 3 hal:
  1. Islam dan agama-agama lain
  2. Urgensi studi islam di Indonesia
  3. Pertumbuhan studi islam di Dunia islam, terbagi dalam 2 bagian:
  • Bagian pertama dan kedua lebih bersifat filosofis
  • Dan bagian ketiga bersifat historis

A. Islam dan Agama-Agama Lain
Dalam kaitanya dengan hal ini agama sering dihubungkan dengan kata religion dan religiositas, yang mana makna religion lebih berkonotasi sebagai kata kerja yang mencerminkan sikap keberagaman atau kesalehan hidup berdasarkan nilai-nilai ketuhanan. Namun seiring berjalanya waktu bergeser menjadi semacam kata benda yang kemudian diyakini sebagai kodifikasi perintah tuhan untuk manusia. Sedangkan religiositas lebih mengarah pada kualitas penghayatan dan sikap hidup seseorang berdasarkan nilai-nilai keagamaan yang diyakininya. Namun istilah yang dianggap lebih tepat adalah spiritualitas karena lebih menekankan substansi nilai-nilai luhur keagamaan dan cenderung memalingkan diri dari formalisme keagamaan.
Kebenaran dapat diperoleh dari dua sisi:
  • kebenaran filosofis : kebenaran yang sebenarnya adalah satu, tunggal, dan tidak majemuk, yakni sesuai dengan realitas.
  • Kebenaran sosiologis : Proses pencapaian dan penerjemahan realitas tertinggi membuat klaim tentang kebenaran menjadi berbeda. Islam mengatakan bahwa agamanyalah yang paling benar, begitu juga Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, dan aliran kepercayaan mengatakan demikian.
Dalam Al-Qur'an terdapat tuntunan yang banyak membicarakan realitas tertinggi yang menunjukan bahwa ia secara filosofis, tidak menerima kebenaran selainya. Namun disisi lain (sosiologis), ia juga dengan sangat toleran menerima kehadiran keyakinan lain (lakum diinukum wa liyadiin). Di samping itu para pemikir Muslim cenderung moderat dan sangat toleran.
Agama itu sendiri pada satu sisi diharapkan tampil membawa kearifan atau pemecahan persoalan, sedangkan di sisi lain ia tampil sebagai salah satu penyebab persoalan.
Menurut Bambang Sugiharto (dalam Andito (ed.), 1998: 29-30) tantangan yang dihadapi setiap agama sekarang ini sekurang-kurangnya ada tiga:
  • Dalam menghadapi persoalan kontemporer yang ditandai disorientasi nilai dan degradasi moralitas, agama ditantang untuk tampil sebagai suara moral yang otentik.
  • Agama harus menghadapi kecenderungan pluralisme, mengolahnya dalam kerangka “teologi” baru dan mewujudkanya dalam aksi-aksi kerjasama plural.
  • Agama tampil sebagai pelopor perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan ketidak adilan.
Dengan naik daunya posisi agama dalam konstelasi peradaban kini, agama pun menjadi rawan ditunggangi kepentingan politik, ekonomi, dan kultur kelompok-kelompok tertentu ataupun pribadi. Jika ini terjadi, agama yang pada awalnya diharapkan menjadi terapi bagi kemelut modernitas, justru akan semakin dirasa sebagai penyakit yang berbahaya.
Komarudin Hidayat (Andito (ed.), 1998: 119-200), meskipun menyebutnya sedikit asal-asalan, menjelaskan tiologi sikap keberagaman: eksklusivisme, inklusivisme, pluralisme, eklektivisme, dan universalisme.
  • Ekslusivisme melahirkan pandangan bahwa ajaran yang paling benar hanyalah agama yang dipeluknya.
  • Inklusivisme berpandangan bahwa di luar agama yang dipeluknya, juga terdapat kebenaran meskipun tidak seutuh dan sesempurna agama yang dianutnya.
  • Pluralisme berpandangan bahwa secara teologis, pluralitas agama dipandang sebagai suatu realitas niscaya yang masing-masing berdiri sejajar sehingga semangat misionaris atau dakwah dianggap “tidak relevan”.
  • Elektivisme adalah sikap keberagaman yang berusaha memilih dan mempertemukan berbagai segi ajaran agama yang dipandang baik dan cocok untuk dirinya sehingga format akhir dari sebuah agama menjadi semacam mozaik yang bersifat elektik.
  • Universalisme beranggapan bahwa pada dasarnya semua agama adalah satu dan sama.

B. Urgensi Studi Islam di Indonesia
Secara umum, studi Islam menjadi penting karena agama, termasuk Islam, memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat. Sedangkan situasi keberagamaan di Indonesia cenderung menampilkan kondisi keberagamaan yang legalistik-formalistik, akibatnya muncul sikap kontra produktif seperti nepotisme, kolusi, dan korupsi (Harun Nasution, 1998: 1-2). Harun Nasution juga berpandangan bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang melaksanakan perintah tuhan dan menjauhi cegahan-Nya. Dengan demikian, orang yang bertaqwa adalah orang yang dekat dengan tuhan, dan dekat dengan Yang Maha Suci adalah “Suci”, orang-orang yang sucilah yang mempunyai moral yang tinggi.
Studi Islam diharapkan melahirkan suatu masyarakat yang siap hidup toleran (tasamuh) dalam wacana pluralitas agama, sehingga tidak melahirkan Muslim ekstrim yang membalas kekerasan agama dengan kekerasan pula: pembakaran masjid dibalas dengan pembakaran gereja.

C. Pertumbahan Studi Islam di Dunia Islam
Pendidikan Islam pada zaman awal dilaksanakan di masjid-masjid, kemudian pada zaman kejayaan Islam, studi Islam dipusatkan di ibukota negara, yaitu Baghdad. Disamping itu, di Eropa terdapat pusat kebudayaan yang merupakan tandingan Baghdad, yaitu Universitas Cordova yang didirikan oleh Abd al-Rahman III (929-961 M) dari Dinasti Umayah di Spanyol. Di Timur Islam, Baghdad, juga didirikan Madrasah Nizhamiah yang didirikan oleh Perdana Mentri Nizham al-Muluk; dan di Kairo Mesir didirikan Universitas al-Azhar yang didirikan oleh Dinasti Fatimiah dari kalangan Syi'ah.
Studi islam sekarang ini berkembang hampir diseluruh negara didunia, baik di Dunia Islam maupun bukan negara Islam. Di Dunia Islam terdapat pusat-pusat studi Islam, seperti Universitas al-Azhar di Mesir dan Universitas Ummul Qura' di Arab Saudi. Di teheran didirikan Universitas Teheran, di Universitas ini stui Islam dilakukan dalam satu fakultas yang disebut Kulliyat Ilahiyyat (Fakultas Agama). Di Universitas Damaskus (Syiria), studi islam ditampung dalam Kuliyat al -Syari'ah (Fakultas Syari'ah).
Sedangkan di Indonesia, studi Islam (pendidikan Islam tinggi) dilakasanakan di 14 Institut Agama Islam Negri (IAIN) dan 39 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN).
Studi Islam di negara-negara non-Islam diselenggarakan dibeberapa negara, antara lain di India, chicago, Los Angles, London, kanada.
Begitulah studi islam sejak zaman awal pembentukan islam hingga sekarang ini.


















Hubungan Agama Dengan Ilmu Pengetahuan Sosial













BAB 4
Hubungan Agama Dengan
Ilmu Pengetahuan Sosial
Dunia saat ini tengah memasuki era globalisasi dengan dampak negatif dan positifnya. Di antara dampak negatif tersebut misalnya terjadi dislokasi, dehumanisasi, sekularisasi, dan sebagainya.sedangkan dampak positifnya antara lain terbukanya berbakai kemudahan dan kenyamanan, baik dalam lingkungan ekonomi, (ekonosfer) informasi (infosfer) maupun psikologi (psikosfer).
Ilmu pengetahuan sosial yang ada sekarang ini dinilai sudah mulai kewalahan dalam ikut serta memberikan kerangka pemecahan masalah yang timbul pada era globalisasi ini. Disebabkan karena prinsip-prinsip yang dijadikan landasan dalam ilmu pengetahuan sosial tersebut berasal dari filsafat barat yang bertumpu pada logika rasional dan cara berfikir empirik. Salah satu upaya mengatasi kebuntuan dari ilmu pengetahuan yang demikian itu, agama diharapkan dapat memberikan arahan dan perspektif baru, sehingga agama tersebut terasa bermanfaat bagi para penganutnya.

  1. PANDANGAN AJARAN ISLAM TENTANG ILMU SOSIAL

Jika diadakan perbandingan antara perhatian islam terhadap urusan ibadah dengan urusan muamalah, ternyata islam menekankan urusan muamalah lebih besar daripada urusan ibadah dalam arti yang khusus . keterkaitan agama dengan masalah kemanusiaan menjadi penting jika dikaitkan dengan situasi kemanusiaan di zaman modern ini. Dewasa ini manusia menghadapi berbagai macam persoalan yang membutuhkan pemecahan segera. Manusia merasa bahwa situasi yang penuh dengan problematika di dunia modern justru disebabkan oleh perkembangan pemikiran manusia sendiri.
Manusia telah berhasil mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik, serta membangun peradaban yang maju untuk dirinya sendiri, tetapi pada saat yang sama, kita juga melihat bahwa umat manusia telah menjadi tawanan dari hasil ciptaannya sendiri. Dalam keadaan demikian, kita harus memiliki ilmu pengetahuan sosial yang mampu membebaskan manusia dari problema tersebut. Ilmu pengetahuan sosial yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan yang digali dari nilai-nilai agama. Kuntowijoyo menyebutkan sebagai ilmu sosial profetik.

  1. ILMU SOSIAL YANG BERNUANSA ISLAM
Ilmu sosial mengalami kemandekan dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, dibutuhkn ilmu sosial yng tidak berhenti pada menjelaskan fenomena sosial, tetapi dapat memecahkan secara memuaskan. Menurut Kuntowijoyo kita butuh ilmu sosial Profetik: yaitu ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial tetapi juga memberi petunjuk kearah mana tranformasi itu dilakukan, yaitu ilmu sosial yang mampu mengubah fenomena berdasarkan cita-cita etik dan profetik tertentu. Yaitu yang berdasarkan tiga hal : cita-cita manusia, libersi, dan ketiga transendensi.
Cita-cita profetif dapat diderivasikan dari misi historis islam dalam kandungan surat Ali-Imran ayat 110 :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ


"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."
Tujuan pertama ialah memanusiakan manusia; seperti Industrialisasi yang kini terjadi kadang menjadikan manusia sebagian dari masyarakat abstrak tanpa wilayah kemanusiaan. Kita menjalani obyektifasi ketika berada di tengah-tengah mesin politik dan mesin pasar, manusia telah menjadi bagian dari sekrup mesin yang tidak lagi menyadari keberadaanya secara utuh.Kedua liberasi bertujuan pembebasan manusia dari kungkungan teknologi, dan memeras kehidupan orang miskin yang tergusur oleh kekuatan ekonomi raksasa dan berusaha membebaskan manusia dari belenggu yang kita buat sendiri. Ketiga tujuan transendensi adalah menumbuhkan dimensi transendental dalam kebudayaan. Dan yang harus kita lakukan membersihkan diri dengan meningkatkan kehidupan pada dimensi transendentalnya.
Dengan ilmu sosial Profetik kita di haruskan mempunyai pandangan bahwa sumber ilmu bukan hanya berasal dari rasio dan empiri sebagaimana yang dianut dalam masyarakat barat, tetapi juga dari wahyu. Dengan ilmu sosial yang demikian maka umat islam akan dapat meluruskan gerak langkah perkembangan ilmu pengetahun yang terjadi saat ini dan juga meredam berbagai kerusuhan sosial dan tindakan kriminal. Fenomena kerusuhan tindakan kriminal, bencana kebakaran hutan, penyimpangan sosial, dan masalah sosial lainnya bukan masalah yang berdiri sendiri, semua itu merupakn produk sistem dan pola pikir. Pemecahan terhadp masalah tersebut salah satu alternatif adalah dengan memberikn nuansa keagamaan pada ilmu sosial.


C. PERANAN ILMU SOSIAL PROFETIK PADA ERA GLOBALISASI
Islam selalu membuka diri terhadap seluruh warisan kebudayan sejak beberapa abad yang lalu islam mewarisi peradaban manusia. Kita tidak membangun dari ruang hampa hal tersebut dapat dipahami dari kandungan surat al-maidah ayat 3.


الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا
Artinya: pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah kucukupkan nikmatku untukmu dan aku ridho islam menjadi agamamu.
kata "telah KU- sempurnakan agama-mu" mengandung arti bukan membangun dari ruang hampa melainkan dari bahan-bahan yang sudah ada. Hal demikian dapat dilihat dari kenyataan sejarah semua agama dan peradapan mengalami proses meminjam dan memberi dalam interaksi mereka satu sama lain sepanjang sejarah. Dalam bidang IPTEK Islam bukanlah agama yang tertutup. Islam adalah paradigma terbuka sebagai mata rantai peradaban dunia. Islam mewarisi peradapan yunani dari barat dan peradaban persia, india, dan cina dari timur. Ketika abad VIII – XV peradaban barat dan timur tenggelam dan mengalami kemerosotan. Islam bertindak sebagai pewaris utama kemudian diambil alih oleh barat sekarang. Islam mengembangkan matematika India, ilmu kedokteran dari Cina, sistem pertahanan Sasanid dan logika Yunani dsb. Namun dalam proses penerimaannya itu terdapat dialektika internal. Mislnya untuk bidang pengkajian tertentu Islam menolak bagian logika Yunani yang sangat rasional, diganti dengan cara berfikir yang menekankan rasa seperti yang dikenal dalam Tasawuf.
Al-Qur'an sebagai sumber utama ajaran islam diturunkan bukan dalam ruang hampa, melainkan dalam setting sosial aktual, respon normatifnya merefleksikan kondisi sosial aktual itu. Meskipun jelas bahwa al-Qur'an memiliki cita-cita sosial tertentu. Bukti sejarah memperlihatkan dengan jelas bahwa sejak kelahirannya lima belas abad yang lalu Islam telah tampil sebagai agama terbuka akomodatif. Serta berdampingan dengan agama, kebudayaan, dan peradaban lainnya. Tetapi dalam waktu bersamaan Islam juga tampil memberikan kritik, perbaikan, bahkan penolakan dengan cara-cara yang amat simpatik dan tidak menimbulkan gejolak sosial yang membawa korban yang tidak diharapkan. Dengan sifat karakteristik ajaran islam demikian itu maka melalui ilmu sosial yang berwawasan profetik Islam siap memasuki era globalisasi yang di tandai dengan adanya perubahan bidang ekonomi, teknologi, sosial, informasi, dsb. Akan dapat diambil dengan sebaik-baiknya.
Islam mempunyai perhatian dan kepedulian yang tinggi terhadap masalah sosial. Untuk itu maka kehadiran ilmu sosial yang hanya membicarakn tentang manusia tersebut dapat diakui oleh Islam. Namun islam mempunyai pandangan yang khas tentang ilmu sosial yang dikembangkan yaitu ilmu sosial profetik yang dibangun dari ajaran islam dan diarahkan untuk humanisasi, liberasi, dan transendensi.


Diringkas dari  Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 1998)
Peringkas temanku seperjuangan
Khozinul Asror hafidzahullah





















Misi Ajaran Islam













BAB 7
Misi Ajaran Islam
  1. PENDAHULUAN
Studi terhadap misi ajaran Islam secara komprehensif dan mendalam adalah sangat diperlukan karena beberapa sebab sebagai berikut:
  1. Untuk menimbulkan kecintaan terhadap ajaran Islam yang didasarkan kepada alasan yang bersifat bukan hanya normative, yakni karena diperintah oleh Allah
  2. Untuk membuktikan kepada umat manusia bahwa Islam baik secara formatif maupun secara cultural dan rasional adalah ajaran yang dapat membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik, tanpa haru mengganggu keyakinan agama Islam.
  3. Untuk menghilangkan citra negative dari sebagian masyarakat terhadap ajaran Islam.

  1. MISI ISLAM
Terdapat sejumlah argumentasi yang dapat digunakan untuk menyatakan misi ajaran Islam sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam, yaitu:
Pertama, dapat dilihat dari pengertian atau makna asli dari islam itu sendiri yaitu masuk dalam perdamaian, dan orang muslim adalah orang yang damai dengan Allah dan damai dengan manusia. Berdamai dengan Allah artinya berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya, dan damai dengan manusia bukan saja berarti menyingkiri berbuat jahat dan sewenang-wenang kepada sesamanya.
Kedua, misi ajaran islam sebagai pembawa rahmat dapat dilihat dari peran yang dimainkan islam dalam menangani berbagai problematika agama, social, ekonomi , politik, hukum, pendidikan kebudayaan, dan sebagainya.
Dalam keadaan umat manusia yang kacau balau Nabi Muhammad datang membawa ajaran islam yang didalamnya bukan hanya mengandung ajaran akidah atau hubungan manusia dengan Tuhannya saja, melainkan juga hubungan dengan sesama manusia dan alam semesta.
Dari sejak kelahirannya Islam sudah memiliki komitmen dan respon yang tinggi untuk ikut serta dalam memecahkan berabagai masalah tersebut diatas. Hal-hal yang demikian itu dapat dikemukakan sebgai berikut:
Pertama, dalam bidang social, Islam memperkenalkan ajaran yang bersifat egaliter atau kesetaraan dan kesederajatan antara manusia dengan manusia lain. Satu dan lannya sama makhluk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Orang yang memilki kelebihan dalam bidang tertentu misalnya ia memiliki kekurangan dalam bidang tertentu lainnya. Orang yang memiliki kekurangan dalam bidang tertentu, tetepi memiliki kelebihan dalam bidang lainnya. Kelebihan yang dimiliki yang satu digunakan untuk menutupi kekurangan yang satunya lagi. Demikian seterusnya.Kelebihan yang dimiliki oleh seseorang bukan untuk memeras yang lain. Orang berkulit putih tidaklah lebih mulia dari yang berkulit hitam, dan orang yang berkulit hitam tidaklah lebih rendah dari yang berkulit putih. Yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertakwa, sebagaimana dalam surat Al-Hujurat, 49:13. Demikian pula dalam sebuah hadis Nabi menyatakan:
“Tidak ada kelebihan bagi orang arab atas orang yag bukan arab, dan orang yang berkulit puti atas orang yang berkulit hitam, kecuali siapa diantara mereka yang peling bertakwa.” (HR. Muslim)
Kedua, misi Islam sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam dapat dilihat dari ajaran dalam bidang ekonomi yang bersendikan asas keseimbangan dan pemerataan. Selain itu misi dalam bidang ekonomi ini dapat dilihat pula dari perintah berdagang dengan cara yang jujur. Sebaimana disebutkan dalan surat Al-Isra, 17:35. Lebih lanjut ajaran Islam sangat melarang keras melakukan praktik riba, atau membungakan uang yang menguntungkan secara berlipat ganda, tanpa memperhitungkan kemampuan orang yang meminjamnya. Praktik riba inj sangat dilarang dalam islam sebaimana yang dinyatakan dalam surat Ali Imran ,3:130.
Ketiga, dalam bidang poitik terlihat dari perintah Al-qur’an agar seorang pemerintah bersikap adil, bijaksana terhadap rakyat yang dipimpinnya, memperhatikan aspirasi dan kepentingan rakyat yang dipimpinnya,mendahulukan kepentingan rakyat daripada kepentingannya sendiri, melindungi dan mengayomi rakyat, membrikan keamanan dan ketentraman kepada masyarakat. sebagaimana yang disebutkan dalam surat An-Nisa, 4:58
Keempat, dalam bidang hukum yaitu sebaimana yang disebutkan dalam surat An-Nisa, 4:58. Ayat tersebut memerintahkan seorang hakim agar berlaku adil dan bijaksana dalam memutuskan perkara dengan tidak memandang adanya perbedaan pada orang yang sedang berperkara.
Kelima, dalam bidang pendidikan dapat dilihat dari ajaran islam yang memberikan kepada manusia hak-haknya dalam bidang pendidikan.
Berdasarkan uraian diatas terlihat dengan jelas bahwa misi utama ajaran islam adalah membawa rahmat bagi seluruh umat manusia dengan cara menata aspek kehidupan social, ekonomi, politik, hukum, pendidikan dan sebagainya.
Ketiga, misi islam dapat pula dilihat dari misi ajaran yang dibawa dan dipraktikan oleh Nabi Shallallahu alahi Wa sallam. Hal ini disebutkan dengan tegas dalam surat Al-Anbiya ayat ke 10, dan juga terlihat dalam praktik kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang dikenal dengan seorang yang sayang dengan umatnya dan kepada manusia umumnya.
Keempat, misi Islam dapat dilihat pula pada kedudukannya sebagai sumber nilai dan pandangan hidup manusia. Dalam hal ini Islam telah memainkan empat peran sebagi berikut. Pertama sebagai faktor kreatif, yaitu ajaran agama yang mendorng manusia melakukan kerja produktif dan kreatif. Kedua, faktor motifatif, yaitu bahwa ajaran agama dapat melandasi cita-cita dan amal perbuatan manusia dalam seluruh aspek kehidupannya. Ketiga, faktor sublimatif, yakni ajaran agama yang dapat meningkatkan dan mengkuduskan fenomena kegiatan manusia tidak hanya hal keagamaan saja, tetapi juga yang bersifat keduniaan. Keempat, faktor integrative, yaitu ajaran agama dapat mempersatukan sikap dan pandangan manusia serta aktifitasnya baik secara indifidual maupun kolektif dalam menghadapi berbagai tantangan.1
Kelima, misi ajaran islam dapat dilihat pula dari peran yang dimainkannya dalam sejarah. Sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa islam diabad klasik(Abad 7 sd 13 Masehi) atau lebih kurang 7 abad telah tampil sebagai pengawal sejarah umat manusia menuju kehidupan yang tertib, aman, damai, sejahtera, maju dalam bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban. Peran kesejarahan umat islam tersebut masih dapat dlilihat dinegara-negara dimana Islam pernah melakukan perannya itu, seperti diirak, Bukhara, Turkistan, Turki, Spanyol, India, Mesir, dan lain sebagainya.
Pengaruh ilmu pengetahuan, peradaban dan kejayaan islam lainnya terhadap eropa merupakan bukti bahwa islam secara faktualtelah berperan secara signifikan bagi kemanusiaan secara universal. Keadaan sekarang ini mungkin sudah terbalik. Eropa lebih maju dari Islam dalam ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
Keenam, misi ajaran Islam lebih lanjut dapat dilihat pula dari praktek hubungan Islam dengan penganut agama lain, sebagaimana yang dilakukan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam diMadinah. Fakta sejarah membuktikan bahwa yang pertama dilakukan Nabi diMadinah adalah menjali hubungan yang harmonis dengan seluruh komponen masyarakat yang ada diMadinah melalui apa yang dalam sejarah dikenal sebagai Mitsaq al-Madinah atau Piagam Madinah. Dari penelitian terhadap Piagam Madinah ditemukan sejumlah prinsip tentang hak asasi manusiadan politik pemerintahan. Teks piagam tersebut menyatakan bahwa atas dasar ajaran Al-qur’an, kemanusiaan dan ikatan social , disamping orang-orang muslim mukmin sebagai satu umat atas dasar agama dan keyakinan, kaum yahudi dan sekutunya juga merupakan umat bersama orang-orang Mukmin.

Diringkas dari  Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 1998)
Peringkas temanku seperjuangan
Muhammad Fuad hafidzahullah

1A. Fauzie Nurdin, Peranan pemimpn agama dan Modernisasi dalam Pembangunan, dalam Abdurrahamn, dkk. (ed) Agama dan Masyarakat, (Yogyakarta:IAIN Sunan Kailijaga,1993); Lihat pula Suyuthi Pulingan, Universalisme Islam, (Jakrta: Moyo Segoro Agung, 2002), hlm, 145



















MODEL PENELITIAN SEJARAH ISLAM












Tugas : Resume kitab Metodologi Studi Islam, Bab 20

MODEL PENELITIAN SEJARAH ISLAM

    Sejarah Islam merupakan salah satu bidang studi Islam yang banyak menarik perhatian para sarjana Muslim maupun non Muslim. Bagi umat Islam, mempelajari sejarah Islam selain akan memberikan kebanggaan juga sekaligus peringatan agar berhati-hati. Sementara itu, bagi para peneliti Barat, mempelajari sejarah Islam selain ditujukan untuk pengembangan ilmu, juga terkadang dimaksudkan untuk mencari-cari kelemahan dan kekurangan umat Islam agar dapat dijajah dan sebagainya. Disadari atau tidak, selama ini informasi mengenai sejarah Islam banyak berasal dari penelitian para sarjana Barat.
    Dari kurangnya penelitian sejarah yang dilakukan oleh umat Islam menimbulkan banyak masalah-masalah sosial kemasyarakatan dan produk-produk hukum yang dipelajari di berbagai lembaga pendidikan, dengan tidak disertai pengetahuan sejarah yang cukup. Dengan demikian, sering berbagai masalah sosial dan hukum serta pemikiran Islam lainnya dipahami lepas dari konteksnya.
Menyadari berbagai persoalan diatas, maka di berbagai lembaga pendidikan Islam yang ada hingga sekarang, bidang studi  sejarah Islam dipelajari. Untuk itu, pada bagian ini kami mencoba mambahas mengenai pengertian sejarah, gambaran umum peta sejarah Islam serta berbagai penelitian sejarah yang pernah dilakukan para peneliti Islam.
A. Pengertian Sejarah Islam
    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta mengatakan sejarah adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau peristiwa penting yang benar-benar terjadi. Sedangkan dalam pengertian yang lebih komprehensif suatu peristiwa sejarah perlu juga dilihat siapa yang melakukan peristiwa tersebut, di mana, kapan, dan mengapa peristiwa tersebut terjadi. Seluruh aspek tersebut selanjutnya, disusun secara sistematik dan menggambarkan hubungan yang erat antara satu bagian dengan bagian yang lainnya.
    Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sejarah Islam adalah berbagai peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi, yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan agama Islam dalam berbagai aspek. Dalam kaitan ini, di antaranya Sejarah Islam, Sejarah Peradaban Islam, Sejarah dan Kebudayaan Islam.
B. Ruang Lingkup Sejarah Islam
    Ruang lingkup sejarah Islam dilihat dari segi periodesasi, dapat dibagi menjadi periode klasik, periode pertengahan, dan periode modern. Periode klasik yang berlangsung sejak tahun 650-1250 Masehi dapat dibagi lagi manjadi masa kemajuan Islam I, yaitu dari sejak tahun 650-1000 Masehi, dan masa disintegrasi yaitu dari tahun 1000-1250 Masehi. Pada masa kemajuan Islam I itu tercatat sejarah perjuangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari tahun 570-632 M., Khulafaur Rasyidin dari tahun 632-661M. khulafaur Rasyidin dari tahun 632-661 M, Bani Umayyah dari tahun 661-750 M, Bani Abbas dari tahun 750-1250 M.
    Selanjutnya, periode pertengahan yang berlangsung dari tahun 1250-1800 M, dapat dibagi ke dalam dua masa, yaitu masa kemunduran I dan masa tiga kerajaan besar. Masa kemunduran I berlangsung sejak tahun 1250-1500 M. di zaman ini Jengis Khan dan keturunanaya datang membawa penghancuran ke dunia Islam. Sedangkan masa tiga kerajaan yang berlansung tahun 1500-1800 dapat dibagi manjadi fase kemajuan (1500-1700 M) dan masa kemunduran II (1700-1800 M).
    Adapun periode modern yang berlangsung dari tahun 1800 M. sampai dengan sekarang ditandai dengan zaman kebangkitan Islam.
C. Model Penelitian Sejarah
1. Model Penelitian Sejarah Kawasan
    Penelitian sejarah dapat dilakukan dengan melihat kawasan dimana peristiwa itu terjadi. John L Esposito, mengedit buku berjudul Islam In Asia, Religion, Politics & Society. Di dalam buku tersebut dikemukakan perkembangan Islam di Asia pada Umumnya, perkembangan Islam di Iran, Pakistan, Afghanistan, Filipina, Asia Tengah (soviet), Cina, India, Malaysia, dan Indonesia. Buku tersebut tidak termasuk ke dalam hasil penelitian dalam arti yang khas, melainkan lebih merupakan kumpulan esai dengan menggunakan sumber-sumber sekunder. Sebagai bahan studi awal untuk buku tersebut paling tidak dapat dihilangkan kesan bahwa Islam identik dengan Arab. David D. Newsonm dalm tulisannya berjudul Islam in Asia Ally or Adversary, menyatakan bahwa Islam di pahami sebagai agama dunia Arab, ternyata tidak benar, karena sebagian besar pemeluk Islam sebagaimana dijumpai pada masa yang lalu inggal di Asia.
    Selain itu melalui studi tersebut dapat dihilangkan berbagai kesan negatif terhadap Islam yang berembang sebelumnya. Di masyarakat Barat ada berbagai kessan negatif terhadap Islam. Petama, Islam seringkali digambarkan sebagai agama yang suka membuat kerusuhan, anti-Barat dan reaksioner baik dalam bidang politik masyarakat. Kedua, Islam sering digambarkan sebagai agama tidak memiliki hubungan dengan berbagai masalah yang timbul di masyarakat. Islam lebih digambarkan sebagai sistem ibadah yang hanya mementingkan hubungan spiritual dengan Tuhan, tanpa memperdulikan berbagai masalah yang terjadi di masyarakat. Ketiga, bahwa aspek yang selama ini belum dapat membuka mata orang Amerika adalah mengenai berbagai pendekatan yang variatif yang dilakukan oleh umat Islam dan pemerintahannya dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. Penelitian ini menunjukan dengan jelas bahwa tidak seluruhnya para peneliti barat atau orientalis memandang negatif terhadap islam, melainkan juga ada yang berpikiran positif, sebagaimana yang dilakukan John L Esposito.
    Arthur Goldschmid Jr, melalui bukunya yang berjudul A Concise History of The Middle East, telah berhasil mendeskripsikan secara komprehensif berbagai peristiwa yang terjadi di Timur Tengah sepanjang berkaitan dengan Islam, mulai sejak kedatangan Islam di daerah tersebut sampai dengan perkembangan yang terakhir.
    Model penelitian sejarah lebih lanjut dilakukan oleh Azyumardi Azra. Dalam hasil penelitiannya, yang kemudian ditulis dalam bukunya berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan kepulauan nusantara abad ke-17 dan abad ke-18 Masehi.
    Pada bagian pendahuluan Azyumardi mengemukakan mengapa penelitian dengan judul tersebut perlu dilakukan. Untuk ini ia mengatakan bahwa transmisi gagasan-gagasan pembaruan merupakan bidang kajian Islam yang cukup terlantar. Berbeda dengan banyaknya kajian tentang transmisi ilmu pengetahuan,misalnya dari Yunani kepada kaum Muslimin dan selanjutnya, ke Eropa modern, tidak terdapat kajian komprehensif tentang transmisi gagasan-gagasan keagamaan. Khususnya gagasan pembaharuan dari pusat-pusat keilmuan Islam ke bagian-bagian lain dunia islam. tentu saja terdapat sejumlah studi tentang transmisi hadits dari satu generasi berikutnya pada awal islam melalui isnad, mata rantai yang berkesinambungan.
    Selanjutnya, Azyumardi mengatakan bahwa sejauh ini, tidak terdapat kajian komprehensif tentang jaringan ulama Timur tengah dan Nusantara. Meski terdapat kajian-kajian penting tentang bebrapa tokoh ulama melayu-Indonesia abad ke-17 dan ke-18, tetapi tidak banyak upaya dilakukan untuk mengkaji secara kritis tentang sumber-sumber pemikiran mereka, dan khususnya tentang bagaimana gagasan-gagasan dan pemikiran Islam mereka transmisikan dari jaringan ulama yang ada tentang bagaimana gagasan yang mereka transmisikan itu mempengaruhi perjalanan historis Islam Nusantara.
    Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kajian tentang transmisi dan penyebaran gagasan pembaharuan Islam, khususnya pada masa menjelang ekspansi kekuasaan Eropa dalam abad ke-17 dan abad ke-18, penting karena beberapa alasan. Sejarah sosial intelektual islam khususnya pada periode ini sangat sedikit dikaji, kebanyakan perhatian diberikan kepada sejarah politik Muslim. Karena terjadinya kemerosotan entitas-entitas politik muslim, periode ini sering dipadang seabagai masa gelap dalam sejarah Muslim. Bertentangan dengan pandangan yang banyak dipegangi ini. Dalam kaitan ini, ia menyatakan kehendaknya, yaitu bahwa dalam studi ini ia akan mengungkapkan bahwa abad ke-18 merupakan salah satu masa yang paling dinamis dalam sejarah sosial intelektual kaum Muslim. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa sumber dinamika Islam dalam abad ke-17 dan ke-18 adalah jaringan ulama yang teruatama berpusat di Makkah dan Madinah. Posisi penting kedua kota suci ini, khususnya dalam kaitan dengan ibadah haji, mendorong sejumlah besar guru (ulama) dan penuntut ilmu dari berbagai wilayah dunia Muslim datang dan bermukim di sana, yang pada gilirannya menciptakan semacam jaringan keilmuan yang menghasilkan wacana ilmiah yang unik.
    Untuk lebih memperkuat tentang penelitianya itu, Azyumardi Azra melakukan studi kepustakaan. Dalam kaitan ini ia mengatakan bahwa beberapa tulisan Voll membahas tentang jaringan ulama yang berpusat di Makkah dan Madinah, dan hubungan-hubungan mereka dengan bagian-bagian lain dunia muslim. Tetapi dia membahas terutama tentang kebangkitan jaringan itu di antara Ulama Timur Tengah dan Anak benua India, dia hanya sambil menyebut keterlibatan ulama Melayu-Indonesia seperti Abd Al-Rauf Al-Sinkili dan Muhammad Yusuf Al-Maqassari dalam jaringan ulama internasional tersebut.
    Selanjutnya John di pihak lain menurut Azyumardi Azra dalam beberapa tulisannya juga membahas hubungan-hubungan tersebut, khususnya antara Al-Sinkili dan Ibrahim Al-kurani. Tetapi dia tidak melakukan usaha membahas lebih lanjut jaringan keilmuan al-Sinkili dengan ulama lain di Haramayn. Langkah kajian tentang jaringan keilmuan tokoh-tokoh ulama Melayu-Indonesia lainnya bahkan lebih mencolok. Kajian-kajian yang mambahas ualama terkemuka selain al-Sinkili gagal mengungkapkan jaringan keilmuan mereka dengan ulama Timur-Tengah.
    Kajian kepustakaan tersebut selain menunjukan adanya potensi tentang kajian jaringan ulama dimaksud. Juga memberikan peluang untuk melakukan penelitian lebih lanjut di bidang tersebut.
    Bertolak dari latar belakang pemikiran dan tinjauan kepustakaan tersebut, Azyumardi Azra mengajukan permasalah penelitian dimaksud. Dalam kaitan ini peneliti mengatakan bahwa kajian ini berupaya menjawab beberapa maslah pokok. Pertama, bagaimana jaringan keilmuan terbentuk diantara ulam Timur Tengah  dengan murid-murid Melayu Indonesia? Bagaimana sifat karakteristik jaringan itu? Apakah ajaran atua tendensi intelektual yang berkembang dalam jaringan? Kedua, apa peran ulama Melayu-Indonesia dalam transmisi intelektual jaringan ulama nusantara ? bagaimana modus transmisi itu? Ketiga, apa dampak lebih jauh dari jaringan Ulama terhadap perjalanan islam di nusantara?
    Dilihat dari data yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan bahwa kajian ini merupakan studi pertama yang menggunakan sumber-sumber Arab secara ekstensif. Kamus-kamus Biografi berbahasa arab tentang ulama dan tokohlainnya pada abad ke-17 dan ke-18 merupakan tambang informasai tentang para guru murid-murid Jawi yang terlibat dalam jaringan ulama.
    Sebagian dari kesimpulan penelitiannya, Azyumardi mengemukakan bahwa sebagian besar mereka yang terlibat dalam jaringan ulama ini, yang berasal dari berbagai wilayah Dunia Muslim membawa berbagai tradisi keilmuan ke Mekkah dan Madinah. Terdapat usaha-usaha sadar di antara ulama dalam jaringan untuk membarui dan merevitalisasikan ajaran ajaran islam. tema pokok pembaruan mereka adalah merekonstruksi sosiomoral masyarakat-masyarakat Muslim. Karena hubungan-hubungan ekstensif dalam jaringan ulama, semangat pembaruan tadi menemukan berbagai ekspresinya di banyak bagian dunia Muslim.
    Selanjutnya, Azyumardi menyimpulkan bahwa pengembangan gagasan pembaruan dari transmisi melalui jaringan ulama melibatkan proses-proses yang amat kompleks. Terdapat saling hubungan diantara banyak ulama dalam jaringan sebagai hasil dari proses keilmuan mereka khususnya dalam bidang tasawuf
    Hubungan antara kaum Muslimin di kawasan Melayu-Indonesia dan Timur Tengah telah terjalin sejak masa-masa awal Islam. para pedagang Muslim dari Arab, Persia dan Anak Benua India yang mendatangi kepulauan Nusantara tidak hanya berdagang, tetapi dalam batas tertentu juga menyebarkan Islam kepada penduduk setempat. Penetrasi Islam di masa belakangan nampaknya lebih didahulukan para guru pengembara sufi yang sejak lahir abad ke-12 datang dalam jumlah yang semakin banyak ke Nusantara.
    Selanjutnya penelitian tersebut menyimpulkan bahwa kemakmuran keraajaan-kerajaan Muslim di Nusantara, terutama sebagai hasil perdagangan Internasional, memberikan kesempatan kepada segmen-segmen tertentu dalam masyarakat Muslim-Melayu Indonesia untuk melakukan perjalanan ke pusat-pusat keilmuan dan keagamaan di Timur tengah. Upaya Dinasti Utsmani mengamankan jalur perjalanan haji juga membuat perjalan naik haji dari nusantara semakin baik. Tatkala hubungan ekonomi, politik, sosial-keagamaan antar negara-negara Muslim di Nusantara dengan Timur Tengah semakin meningkat sejak abad ke-14 dan ke-15 kian banyak juga penuntut ilmu dan jama’ah haji dan dunia melayu-indonesia yang berkesempatan mendatangi pusat-pusat keilmuan Islam di sepanjang rute perjalanan haji. Ini mendorong munculnya komunitas yang oleh sumber-sumber Arab disebut Ashab al-Jawiyyin (saudara kita orang jawi) di Haramayn. Istilah jawi, meskipun berasal dari kata jawa merujuk kepada setiap orang yang berasal dari Nusantara.
    Selanjutnya penelitian tersebut menyimpulkan bahwa murid-murid Jawi di Haramayn merupakan inti utama tradisi intelektual dan keilmuan Islam di antara kaum Muslimin Melayu Indonesia. Kajian atas sejarah kehidupan, keilmuan dan karya-karya yang mereka hasilkan menjelaskan tidak hanya sifat hubungan keagamaan dan intelektual di antara kaum Muslimin Nusantara dan Timur Tengah, tetapi juga perkembangan Islam semasa di Dunia Melayu indonesia. Kehidupan dan pengalamam mereka menyajikan gambaran yang amat menarik tentang berbagai jaringan intelektual keagamaan yang terdapat di antara mereka dengan ulama Timur Tengah.
    Melalui hasil penelitiannya itu Azyumardi Azra telah berhasil menyatakan ketidakbenaran sepenuhnya tentang corak Islam di kepulauan Nusantara. Selama ini diasumsikan bahwa di kawasan ini tidak mempunyai tradisi keilmuan yang mantap, bahkan Islam di Nusantara dianggap bukan Islam yang sebenarnya, karena bercampur dengan budaya lokal. Menurutnya pada intinya Islam di Nusantara berbeda dengan Islam di Timur Tengah. Ia lebih lanjut mengatakan  kita tentu saja tidak menolak adanya pengaruh lokal tersebut, tetapi untuk menyebut tradisi Islam di nusantara tidak mempunyai kaitan Islam di Timur Tengah jelas merupakan kekeliruan amat fatal.
    Lebih lanjut melalui hasil penelitiannya, Azyumardi Azra mengatakan juga keliru menganggap hubungan antara Islam Nusantara dengan Timur Tengah lebih bersifat politik ketimbang keagamaan. Menurutnya setidaknya sejak abad ke-17 dan ke-18 hubungan di antara kedua wilayah Muslim ini umumnya bersifat keagamaan dan keilmuan, meski juga terdapat hubungan politik antara beberapa kerajaan Muslim Nusantara, misalnya dengan Dinasti Utsmani.
    Berrdasarkan informasi tersebut diatas maka model penelitian sejarah yang dilakukan Azyumardi Azra adalah termasuk studi sejarah kawasan dengan mengambil masalah pokoknya pada jaringan ulama Timur Tengah dengan melayu Nusantara dalam abad ke-17 dan ke-18. Penelitian tersebut tergolong penelitian eksploratif, dokumentatif dan kualitatif, karena berupaya mengungkapkan berbagai masalah yang ada kaitannya dengan jaringan ulama tersebut berdasarkan dokumen tertulis yang dapat dipertanggung jawabkan kesahihannya. Penelitian tersebut bukan penelitian uji hipotesi atau mencari kolerasi antara satu variabel dengan variabel lainnya.
    Dilihat dari segi aspek-espeknya tampak penelitian tersebut telah lengkap. Di dalamnya dikemukakan tentang latar belakang pemikiran permasalahan, tujuan, bahan-bahan yang digunakan, pendekatan, dan kesimpulan yang dihasilkan. Model penelitian yang demikian tampak terkesan melelahkan dan banyak memakan energi, namun jelas sekali sumbangannya bagi perkembangan khazanah intelektual islam. untuk itu penelitian tersebut perlu dilanjutkan.



















 

Browsing Artikel

Pengikut

Total Tayangan Halaman

sinforan's cbox

Recent Posts

Pingbox

Copyright 2010 Situs Informasi dan Pengetahuan - All Rights Reserved.
Designed by Web2feel.com | Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com | Affordable HTML Templates from Herotemplates.com.