SINFORAN | Mengucapkan Jazakallahu khairan katsiran a'la ziyaratikum | Baca kisah |
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter

Model Penelitian Politik
















BAB 18
Model Penelitian Politik
Masalah polotik termasuk salah satu bidang studi yang menarik perhatian masyarakat pada umumnya. Hal ini antara lain di sebabkan karena masalah politik selalu mempengaruhi kehidupan masyarakat. Masyarakat yang tertib aman dan damai, sejahtera lahir dan bathin dan seterusnya tidak dapat dilepaskan dari system politik yang diterapkan. Karena demikian pentingnya masalah politik ini, telah banyak studi dan kajian yang di lakukan para ahli terhadapnya. Demikian pula ajaran islam sebagai ajaran yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh juga juga diyakini mengandung kajian mengenai masalah politik dan kenegaraan.
Sejalan dengan pemikiran tersebut, pada bab ini pembaca akan di ajak untuk memahami pengertian politik.eksistensinya dalam ajaran islam,serta model-model penelitian politik yang pernah di kembangkan para ahli.
  1. PENGERTIAN POLITIK
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia,karangan W.J.S Poerwadarminta,politik di artikan sebagai pengetahuan mengenai ketatanegaraan,seperti tata cara pemerintahan,dasar-dasar pemerintahan dan sebagainya; dan dapat pula berarti segala urusan dan tindakan (kebijaksanaan),siasat dan sebagainya mengenai pemerintahan sesuatu negara atau terhadap negara lain.
Dalam bahasa Arab, politik biasanya di wakili oleh kata al-siayasah dan daulah. Kata siyasah di jumpai dalam bidang kajian hukum,yaitu ketika berbicara masalah imamah,sehingga dalam fiqih dikenal adanya bahasan tentang Fiqih Siyasah. Demikian pula kata Daulah pada mulanya dalam Al-qura’an di gunakan untuk kasus pengusaan harta di kalangan orang-orang kaya ,yaitu bahwa dengan zakat di harapkan harta tersebut tidak hanya berputar pada tangan orang-orang kaya .karena menurut sifatnya harta tersebut harus bergilir atau berputar.
  1. EKSISTENSI POLITIK DALAM ISLAM
Dikalangan masyarakat islam pada umumnya kurang melihat hubungan masalah politik dengan agama. Hal ini antara lain di sebabkan Karena pemahaman yang kurang utuh terhadap cakupan ajaran islam itu sendiri.
Keterkaitan agama Islam dengan aspek politik selanjutnya dapat diikuti dari uraian yang di berikan harun Nasutian dalam bukunya Islam ditinjau Dari berbagai Aspeknya Jilid II. Dalam buku tersebut Harun Nasution malah menegaskan bahwa persoalan yang pertama-tama timbul dalam islam menurut sejarah bukanlah persoalan tentang keyakinan melainkan persoalan politik. ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam berada di madinah,beliau tidak hanya mempunyai sifat Rasul Allah, tetapi juga mempunyai sifat Kepala negara,dan sebagai kepala negara,setelah beliau wafat mesti diganti oleh orang lain untuk memimpin negara yang beliau tinggalkan. Para peneliti sejarah politik ada yang mengkategorikan bahwa corak politik yang di terapkan oleh nabi Muhammad adalah corak teo demokratis,yaitu suatu pola pemerintahan yang dalam menyelesaikan setiap persoalan terlebih dahulu melakukan musyawarah baru kemudian menunggu ketetapan dari Tuhan. Hal ini di mungkinkan karena pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam wahyu masih dalam proses turunnya.
  1. MODEL-MODEL PENELITIAN POLITIK
Menurut Alfian, permasalahan politik dapat dikaji melalui berbagai macam pendeketan. Ia dapat di pelajari dari sudut kekuasaan, struktur politik, partisipasi politik, komunikasi politik, konstitusi, pendekatan dan sosialisasi politik, pemikiran politik, dan juga kebudayaan politik.
Memahami berbagai pendekatan dalam memahami politik ini diperlukan, selain sebagai alat untuk melakukan kajian, juga untuk melakukan analisa terhadap model penelitian yang kita lakukan dan yang dilakukan oleh orang lain. Berikut ini akan di sajikan model penelitian politik yang dilakukan oleh M. Syafi’I Ma’arif dan Harry J.benda

  1. Model M. Sykaitan syafi’i Ma’arif
Salah satu hasil penelitian bidang politik yang dilakukan Syafi’I Ma’arif tertuang dalam bukunya berjudul Islam dan Masalah Kenegaraan, yang di terbitkan oleh LP3ES Jakarta, tahun 1985. Pada bagian pendahuluan laporan hasil penelitiannya itu, Syaf’i Ma’arif mengemukakan substansi ajaran Al-qur’an mengenai ketatanegaraan. Dalam kaitan ini ia mengatakan jika perkembangan social keagamaan berlanjut menurut arah ini, usaha intelektual yang sungguh-sungguh dalam menjelaskan dan mensistematisasikan brbagai aspek ajaran islam mutlak perlu digalakkan agar umat islam punya kemampuan menghadapi dan memecahkan masalah-masalah modern yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia, seperti kemiskinan, keterbelakangan ekonomi, pertumbuhan penduduk, pendidikan, perkembangan politik, dan yang sangat mendesak adalah masalah keadilan sosio-ekonomi.
Dengan mengikuti pandangan ini, menurutnya, studi Alquran secara mendalam dan sistematik menjadi sangat mutlak diperlukan. Tanpa kerja strategis ini, bangunan sosio politik islam akan tetap goyang, dan tanpa formulasi yang jelas tentang pandangan dunia menurut Alquran, barangkali sedikit faedahnya bagi orang yang membicarakan rekonstruksisosial umat islam. Perkataan umat Islam dalam kaitan ini menurutnya sebagai sebuah masyarakat Islam yang anggotanya-anggotanya terdiri dari mereka yang berorientasi Islam atau mereka yang memegang Islam sebagai cara hidup. Hal ini sejalan dengan pernyataan Fred R. Von der Mehden yang mengatakan bahwa sekitar 90 persen rakyat Indonesia adalah Muslim,tetapi sengat berbeda dalam iman dan cara hidup. Yang paling menonjol dalam jumlah dan kekuasaan politik adalah orang-orang Muslim abangan, terutama yang berdiam di pulau Jawa dan sangat di pengaruhi mistik jawa dan pengaruh Hindu Budha yang tidak tampak. Menurutnya sebagian besar angkatan bersenjata yang memerintah Indonesia sejak akhir 1960-an berasal dari golongan masyarakat ini, sebagai satu unsure penting dari birokrasi negara.

  1. Model Harry J. Benda
Penelitian di bidang politik dengan menggunakan pendekatan historis normative dilakukan pula oleh Harry J. Benda, penelitian tersebut berusaha mencari informasi dari sumber-sumber sesudah perang, dalam usaha untuk menguji dan memperbaiki gambaran yang telah muncul dari studi catatan-catatan masa pendudukan. Menurutnya berbeda dengan periode kolonialisme Belanda, pendudukan jepang jepang di Indonesia pada umunya, dan perkembangan Islam selam tahun-tahun tersebut khususnya, sejauh ini sangat tidak mendapat perhatian dari kalangan penulis-penulis Indonesia lainnya.
Sejalan dengan upaya tersebut maka penelitian yang ia lakukan di buat untuk memberikan analisa sosio-historis tentang elite islam, dan dalam jangkuan yang lebih kecil, tentang elite-elite nonreligius yang bersaing di panggung politik Indonesia di bawah kekuasaan asing. Karenanya penelitian tersebut di arahkan pada tempat-tempat yang di berikan kepada para pemimpin masyarakat islam oleh tuan penjajah berturut-turut dan konstelasi kekuasaan yang terpencar darinya yang melibatkan para pemimpin islam, aristocrat Indonesia, dan tokoh-tokoh pergerakan nasionalis Indonesia sekuler di abad ini.
Di lihat dari segi cakupannya, secara garis besar penelitian ini membahas perkembangan islam di pulau jawa saja. Batasan ruang lingkup yang patut di sesalkan ini sebagian besar di tentukan oleh sumber-sumber bahan yang di peroleh. Terutama bagi masa jepang, catatan-catatan tertulis dari pulau-pulau lain, dengan berbagia pengecualian kecil, tidak dapat di peroleh peneliti. Sedangkan efek-efek dari masa pendudukan jepang Islam Indonesia di Aceh, salah satu daerah Islam di Sumatra yang kokoh keislamnya, telah menjadi pembahasan yang sangat bagus dari monograf belanda, nasib masyarakat Islam di daerah-daerah lain di nusantara, terutama di Daerah Pantai barat Sumatra yang penting itu, masih harus di pelajari secara terperinci.
Bagian pertama, peneliti memasukkan referensi singkat tentang wilayah tersebut, dimana hal ini kelihatnnya sesuai untuk memperbandingkan dan mempertentangkannya dengan situasi di jawa, tetapi sayangnya peneliti tidak sanggunp melakukan penelitian bagian ini kedalam zaman jepang.
Selanjutnya dikatakan dalam buku tersebut, karna aspek politik islam Indonesia merupakan pokok utama dalam buku tersebut, generalisasi tidak dapat dihindarkan. Pembahasan seperti ini terpaksa tidak memprdulikan adanya perbedaan regional yang meliputi Islam bahkan dalam konteks terbatas di pulau jawa, dimana cabang-cabang politiknya, teristimewa di karesidenan banten di jawa barat, dinilai harus mendapatkan perhatian tersendiri.
Di antara kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian tersebut adalah meskipun Islam di daerah lain tak dapat disangkal telah memainkan peranan utama di dalam perkembangan politik Indonesia, di jawa –menurut Benda- telah mendapatkan perwujudan organisatoris paling penting. Di sanalah juga, kelompok-kelompok islam paling langsung terlibat dalam membentuk politik Indonesia pada umumnya.

Diringkas dari  Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 1998)



Peringkas: Shafwan Hadi



















POSISI ISLAM DI ANTARA AGAMA-AGAMA DI DUNIA













POSISI ISLAM DI ANTARA AGAMA-AGAMA DI DUNIA

A. PENDAHULUAN

Sebelum Islam datang ke dunia ini, telah terdapat sejumlah agama yang dianut oleh umat manusia. Para Ahli Ilmu Perbandingan Agama membagi agama secara garis besar kedalam dua bagian

  1. Kelompok agama yang diturunkan oleh Tuhan melalui wahyu-Nya sebagaimana termaktub dalam kitab suci Alquran dan agama ini biasanya disebut dengan agama samawi (agama langit) karena berasal dari atas langit. Yang termasuk kedalam kelompok agama ini antara lain Yahudi, Nasrani dan Islam.
  2. Kelompok agama yang didasarkan pada hasil renungan mendalam dari tokoh yang membawanya sebagaimana terdokumentasikan dalam kitab suci yang disusunnya dan agama ini biasanya disebut dengan agama ardli (agama bumi) karena berasal dari bumi. Yang termasuk kedalam kelompok agama ini antara lain Hindu, Budha, Majusi, Kong Hucu dan lain sebagainya.

Agama-agama tersebut hingga saat ini masih dianut oleh umat manusia didunia dan disampaikan secara turun temurun oleh penganutnya. Didalam mengkaji agama islam biasanya sering dihadapkan dengan agama-agama tersebut dengan tujuan untuk mengetahui posisi islam diantara agama-agama tersebut.

B. PEMBAHASAN

Islam adalah agama yang terakhir diantara sekalian agama besar di dunia yang semuanya merupakan kekuatan raksasa yang menggerakan revolusi dunia dan mengubah nasib sekalian bangsa , agama yang melingkupi segala-galanya dan mencakup sekalian agama yang datang sebelumnya.

Posisi Islam terhadap agama-agama yang datang sebelumnya:

  1. Islam menyuruh para pemeluknya agar beriman dan mempercayai bahwa sekalian agama besar didunia yang datang sebelumnya diturunkan dan diwahyukan oleh allah, beriman kepada para nabi dan kitab suci dari semua bangsa dan agama islam mencakup segala agama didunia dengan kitab sucinya alquran yang merupakan gabungan dari semua kitab suci didunia ( kitab taurat, zabur dan injil yang murni )
Di dalam Alquran dijumpai ayat-ayat yang menyuruh umat islam mengakui agama-agama yang diturunkan sebelumnya sebagai bagian dari rukun iman, misalnya suruh albaqarah ayat 4
والذين يؤمنون بما أنزل اليك وما أنزل من قبلك
    “ Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau dan apa yang diturunkan sebelum engkau “

  1. Islam adalah agama yang terakhir dan merupakan pernyataan kehendak ilahi yang sempurna.
    Di dalam Alquran disebutkan

اليوم أكملت لكم دينكم و أتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاسﻻم دينا
“ Pada hari ini Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan Aku lengkapkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku meridhoi islam sebagai agamamu


  1. Agama islam memiliki tugas yang besar yaitu:
  1. Mendatangkan perdamaian dunia dengan membentuk persaudaraan diantara sekalian agama di dunia
  2. Menghimpun segala kebenaran yang termuat dalam agama yang telah ada sebelumnya
  3. Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh para penganut agama sebelumnya yang kemudian dimasukan kedalam agamanya itu
  4. Mengajarkan kebenaran abadi yang sebelumnya tidak pernah diajarkan
  5. Memenuhi segala kebutuhan moral dan rohani bagi umat manusia yang selalu bergerak maju.
  1. Dengan datangnya islam, agama memperoleh arti yang baru dan didalamnya terdapat unsur pembaruan. Dalam hal ini paling kurang ada 2 hal:
  1. Agama islam harus diperlakukan sebagai sebuah ilmu, dimantapkan dengan menyajikan ajaran agama sebagai landasan perbuatan bagi perkembangan manusia menuju tingkat kehidupan yang lebih tinggi lagi.
  2. Ruang lingkup agama islam mencakup kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

  1. Posisisi agama islam terhadap agama-agama lain dapat dilihat dari dua sifat yang dimiliki ajaran islam, yaitu akomodatif dan persuasif.
Islam berupaya mengakomodir ajaran-ajaran agama masa lalu dengan memberikan makna dan semangat baru didalamnya. Sebelum islam datang dijumpai adanya kebiasaan masyarakat jahiliyah melakukan kurban persembahan kepada para dewa dan arwah leluhur untuk memperoleh keberkahan. Kebiasaan berkurban ini diteruskan oleh islam dengan tujuan kurban diarahkan sebagai bentuk pengabdian dan rasa syukur kepada Allah atas segala karunia yang diberikan-Nya , sedangkan daging kurbannya diberikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang kurang mampu.
Upaya yang dilakukan dengan cara persuasif misalnya islam melihat adanya hal-hal yang tidak disetujui dan harus dihilangkan, namun dari segi yang lain Islam mengupayakan agar proses menghilangkan tradisi yang demikian itu tidak menimbulkan gejolak sosial yang merugikan. Proses tersebut dilakukan secara bertahap sambil menjelaskan makna larangan tersebut yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan intelektual mereka, hingga akhirnya perbuatan tersebut benar-benar ditinggalkan oleh masyarakat. Hal yang demikian misalnya terlihat pada larangan meminum minuman keras. Dalam proses pelarangan itu, Islam menempuh cara-cara yang persuasif. Dimulai dengan membiarkan apa adanya, kemudian menjelaskan pengaruh positif dan negatifnya pada saat mereka bertanya. Setelah itu minuman keras tersebut dilarang pada saat-saat tertentu saja, yaitu pada saat akan melakukan sholat, hingga kemudian dilarang pada kapan saja.
  1. Hubungan islam dengan agama-agama lain dapat dilihat pada ajaran moral yang ada didalamnya dan konsep gender yang terdapat pada masing-masing agama.
  1. Dalam agama Hindu terdapat ajaran yang menganggap bahwa keinginan terhadap kesenangan merupakan hal yang bersifat alamiyah sesuai dengan kodrat manusia. Akan tetapi terdapat ajaran untuk mengendalikan hawa nafsu terhadap kenikmatan tersebut.
Dalam agama Hindu, wanita diibaratkan sebagai tanah dan laki-laki diibaratkan sebagai benih. Hasil terjadinya jasad badaniyah yang hidup terjadi karena melalui hubungan antara tanah dan benih. Potensi wanita dipandang kreatif dan penuh kebaikan hanya apabila potensi itu terjadi secara harmonis dengan pria.
  1. Dalam agama Budha terdapat ajaran tentang pengendalian diri dari memperturutkan hawa nafsu yang berakibat pada terjadinya tindakan kejahatan dan terdapat pula sejumlah ajaran etis tentang larangan membunuh, larangan mencuri, berdusta dan lain sebagainya.
Agama Budha menyatakan bahwa seorang istri berkedudukan dan berperan cukup besar dalam menyukseskan suaminya. Suami istri memiliki kewajiban dan tanggung jawab bersama dalam rumah tangga dan adanya kehendak bersama dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Seorang istri yang patut dipuji dalam suatu keluarga yaitu istri yang keibuan, istri yang seperti saudara, istri yang seperti sahabat dan istri yang seperti pegawai.
  1. Dalam agama Yahudi yang dibawa oleh Nabi Musa terdapat Sepuluh perintah Tuhan yang meliputi : pengakuan terhadap Tuhan Tang Maha Esa; Larangan menyekutukan Tuhan dengan apa saja dan dimana saja; Larangan menyebut nama Tuhan dengan kata-kata yang dapat menyia-nyiakan-Nya; Memuliakan hari Sabtu; Menghormati ayah dan ibu; Larangan membunuh sesama manusia; Larangan berbuat zina; Larangan mencuri; Larangan menjadi saksi palsu; Menahan hawa nafsu untuk memiliki sesuatu yang bukan menjadi miliknya.
  1. Dalam agama Kristen terdapat ajaran tentang perintah berbuat baik antara sesama manusia, saling mencintai sesama manusia, bersifat pemurah dalam setiap hal yang menyangkut kebaikan, menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri dan lain sebagainya.
Dalam agama Kristen, Yesus tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan. Ia menghargai wanita sebagai pribadi yang utuh. Yesus berbicara langsung dengan wanita, menyembuhkan wanita yang sakit dan memanggil wanita untuk mengikutinya.
  1. Dalam agama Islam terdapat ajaran tentang pengendalian hawa nafsu keduniaan yang diikuti oleh keharusan melakukan perbuatan yang baik bagi kemanusiaan. Islam mengingatkan umatnya agar jangan mengikuti hawa nafsu karena mengikuti hawa nafsu akan menjerumuskan pelakunya kedalam kehidupan yang menyengsarakan.
Dalam ajaran Yahudi yang dibawa oleh Nabi Musa terdapat ajaran menghormati hari sabtu. Ajaran ini tidak dianggap relevan lagi dalam ajaran Islam. Semua hari dalam ajaran Islam memiliki kedudukan dan makna yang sama, tergantung kepada orang yang memanfaatkannya.
    Dalam agama islam wanita diumpamakan seperti tanah ladang tempat bercocok tanam sebagaimana disebut dalam Alquran surah Al-baqarah ayat 223 yang artinya : “ Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tersebut bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah amal yang baik untuk dirimu dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”
Rasulullah menyebutkan kriteria seorang istri sebagaimana yang disebutkan dalam suatu hadits yang artinya : “ Tidak ada sesuatu yang diambil faedahnya oleh orang muslim setelah takwakepada Allah yang lebih baik baginya daripada seorang istri shalihah yang jika seorang suami memerintahnya, ia mematuhinya; jika suami memandangnya, maka ia menyenangkannya; jika suami menggilirnya, maka ia mematuhinya; dan jika suami pergi darinya, maka ia memelihara diri dan harta (suami)nya ”.
Dari penjelasan-penjelasan ini terlihat dengan jelas bahwa posisi ajaran islam diantara agama-agama lain selain mengoreksi dan membenarkan juga melanjutkan sambil memberikan makna baru dan tambahan-tambahan sesuai dengan kebutuhan zaman. Oleh karena itu, diutuslah Rasulullah shollallahu alahi wa sallam untuk menyempurnakan ajaran-ajaran para Nabi dan Rasul terdahulu dan memerintahkan manusia untuk mengimani apa yang diwahyukan kepada beliau berupa Alquran dan Assunnah.

    C. PENUTUP

Posisi Islam diantara agama-agama lain tampak bersifat adil, obyektif dan proporsional. Dengan sifatnya yang adil, ajaran Islam mengakui peran yang dimainkan agama-agama yang pernah ada didunia. Dengan sifatnya yang obyektif, Islam memperbaiki dan meluruskan ajaran-ajaran agama yang salah dan tersesat. Dengan bersifat proporsional, Islam memberikan perhatian terhadap ajaran agama yang tidak seimbang. Islam adalah agama yang terbuka, mau berkompromi dan berdialog dengan agama lain. Dengan sifatnya yang demikian ini, Islam telah tampil sebagai penyempurna, korektor, pembenar dan sekaligus sebagai pembaru.
Setiap ajaran agama-agama tersebut memiliki perbedaan yang berkaitan dengan keyakinan (teologis) dan ritualistik, yakni peribadatan. Terhadap hal ini masing-masing agama dianjurkan untuk saling menghargai dan menghormati.
Islam adalah agama perdamaian, jauh dari sikap bermusuhan dan bukan agama kaum teroris. Terjadinya pertentangan antara satu agama dengan agama lain sebagaimana terlihat dalam sejarah, sama sekali bukan disebabkan karena faktor agama, melainkan karena faktor-faktor lain yang mengatasnamakan agama. Hal seperti ini harus segera dicegah dan dikembalikan kedalam situasi yang merperlihatkan keharmonisan hubungan antara agama-agama yang ada didunia.



















Islam dan Kebudayaan Indonesia













BAB 4
Islam dan Kebudayaan Indonesia
sebelum membicarakan sebagaian tema-tema tersebut, pada bagian awal bab ini akan dikemukakan mengenai Islam dan Kebudayaan di Indonesia, atau lebih tepatnya, persentuhan antara Islam dengan kebudayaan Melayu dan Jawa. Setelah itu, kita akan bicara tentang ekspresi estetik Islam serta teradisi dan inovasi keislaman di Indonesia.

A. PERSENTUHAN ISLAM DENGAN KEBUDAYAAN MELAYU DAN JAWA

Dalam Islam terhadap ajaran tauhid, sesuatu konsep sentral yang berisi ajaran bahwa Tuhan adalah pusat segala sesuatu, dan manusia haraus mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada-NYA. Konsep ini dijelaskan dalam beberapa literatur dengan penjelasan yang berbeda. Di pesantren-pesantren tradisional salafi, kalimat lailaha illa Allah sering ditafsirkan sebagai berikut: pertama, la mujudu illa Allah (tidak ada yang “wujud” kecuali Allah); kedua, la ma'buda illa Allah (tidak ada yang disembah kecuali Allah); ketiga, la maqsud illa Allah (tidah ada yang dimaksud kecuali Allah); dan keempat, la mathlub illa Allah (tidak ada yang diminta kecuali Allah).
Indonesia pernah mengalami dualisme kebudayaan, yaitu antara kebudayaan keraton dan kebudayaan populer. Dua jenis kebudayaan ini sering dikategorikan sebagai kebudayaan tradisional.
Konsep kekuasaan Jawa sungguh berberbeda dengan konsep kekuasaan islam. Dalam kebudayaan Jawa dikenal konsep Raja Absolut, islam justru mengutamakan konsep Raja Adil, al-Malik al-Adil. Akan tetapi, sesuatu hal yang perlu dicatat adalah kebudayaan karaton diluar jawa memiliki konsep yang lebih dekat dengan gagasan Islam. Di Aceh, misalnya, raja memiliki sebutan al-Malik al-Adil. Ini berarti kebudayaan keraton di Jawa lebih mengutamakan kekuasaan, sedangkan kebudayaan kerabudayaan keraton diluar pulau Jawa lebih mengutamakan keadilan. Perbedaan lain antara kebudayaan masyarakat berdasarkan atas kemutlakan kekuasaan raja, ketertiban masyarakat berdasarkan atas kemutlakan kekuasaan raja, sedangkan dalam islam, ketertiban sosial akan terjamin jika peraturan-peraturan syariat ditegakan. Dengan kata lain, kebudayaan karaton di Jawa mementingkan kemutlakan kekuasaan raja untuk ketertiban sosial, sedangkan Islam mementingkan hukum yang adil untuk diteganya ketertiban sosial. Karna terjadi perbedaan yang begitu tajam, yang sering terjadi ketegangan antara Isalam dengan kebudayaan keraton jawa. (Kuntowijoyo,1991: 232)

B. INOVASI DAN PENGARUH ISLAM DALAM SASTRA, SENI, DAN ARSITEK

Ekspresi astentik Islam di Indonesia, paling tidak, dapat dilihat dalam dua bidang: sastra dan arsitek. Kecendrungan sastra sufistik (transendental) telah muncul di Indonesia sekitar tahun 1970. kemunculan sastra berkecendrungan sufistik ditandai munculnya karya-karya yang ditulis pada tahun tuju puluhan, di antaranya Godlod dan Alam Makrifah kumpulan cerpen Danarto; Khotbah di atas bukit karya kuntowijoyo, dan Arafah karya M. Fudoli Zaini. Disusul karya-karya berikutnyaseperti Sanu Infinitina Kembar (1985) karya Motinggo busye (alm) (Abdul Hadi WM dalam Yustino dkk. (Dewan Redaksi), 1993: 74)
Eksperesi estetik Islam lainnya tergambarkan dalam arsitek masjid-masjid tua. Citra masjid tua adalah contoh dari interaksi agama dengan teradisi arsitek pra-Islam diIndonesia dengan konstruksi kayu dan atap tumpang bentuk limas. Umpamanya Masjid Demak, Masid Kudus, Masjid Cirebon, dan masjid Banten sebagai cikal-bakal masjid di Jawa. Sedangkan di Aceh dan Medan, corak masjid tua memperhatikan sistem atap kubah. Menurut para ahli, masjid-masjid tua di Aceh dan Medan merupakan penerus dari gaya masjid Indo-Persi dengan ekspresi struktur bangunan yang berbeda dengan corak masjid atap tumpang (Wiyoso yodoseputro dalam Yustino dkk. (Dewan Redaksi), 1993: 11-3)
Menurut Nurcholish madjid (dalam budhy Munawar Rachman (ed.), 1994: 463-4), asitektur masjid indonesia banyak diilhami oleh gaya arsitektur kuil Hindu yang atapnya bertingkat tiga. Seni arsitektur sering ditafsirkan sebagai lambang tiga jenjang perkembangan penghayatan keagamaan manusia, yaitu tingkat dasar atau pemulaan (purwa), tingkat menengah (madya), tingkat terakhir yang maju dan tinggi (wusana). Damnbar itu dianggap sejajardengan vertikal islam, iman, dan ihsan. Selain itu, hal itu dianggap sejajar dengan syari'at, thariqat, dan ma'rifat.

  • ISLAM DAN ADAT MELAYU DI SULAWESI SELATAN DAN ACEH

Pengaruh islam dalam kebudayaan Sulawesi selatan antara lain tergambarkan dalam sulapa eppa'e (pepatah orang tua kepada anaknya yang hendak merantau. Bunyi sulapa eppa'e adalah sebagai berikut.

Abu bakkareng tettong riolo
Ummareng tettong di atau
Bagenda Ali tettong ri abeo
Usmang tettong ri munri
Kun fayakun
Barakka la illaha illa'llah
muhammadun rasulullah

Abu Bakar berdiri didepan
Umar berdiri sebelah kanan
Baginda Ali berdiri sebelah kiri
Usman berdiri di belakang

kesusastraan Aceh banyak berbentuk pepatah, pantun, syair, dan hikayat. Salah satunya sastra dalam bentuk pepatah adalah:
Uang habis, gaseh pun kurang
mana mau pakai lagi, aku sudah hina
(Tgk. H.Muslim Ibrahim dalam Yustino dkk.,(Dewan Redaksi), 1993: 276)

itulah akultarasi Islam denmgan kebudayaan Indonesia Yang didominasi oleh kebudayaan Melayu dan Jawa. Kebudayaan Melayu lebih mudah menerima Islam, sedangkan kebudayaan Jawa --yang oleh kuntowijoyo dibagi menjadi dua: budaya keraton dan budaya populer-- cenderung berwajah ganda, terutama budaya keraton, dalam menerima islam. Budaya karaton Jawa yang mewarisi tradisi Hindu-Budha berintegrasi dengan budaya Islam sehingga para abdi dalem membuat sesuatu silsilah membuktikan bahwa raja adalah keturunan para dewa di satu sisi, dan di sisi lain mereka juga mengaku sebagai keturunan para nabi. Lebih dari itu, raja di Jawa ada yang mengaku sebagai wali Tuhan untuk menanamkan loyalitas rakyat kepadanya dan pempertahankan atatus quo.  


Ringkasan dari buku Metodologi Studi Islam, karya Drs. Atang Abd. Hakim, MA., Dr. Jaih Mubarok, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya Offset, cet. x, 2008), 27-39

Ditulis oleh teman seperjuangan:
Abdulloh  hafidzohullahu ta'ala
























Membuat Related post Dengan LinkWithin












contoh LinkWithin:
Baik Sobat kita langsung masuk ke Tutorial nya.

1. Silahkan sobat menuju Ke http://www.linkwithin.com/ atau klik  DI SINI
2. Silahkan isi kolom yang sudah di sediakan
    
3.  Kolom pertama "Email" Isi dengan  Alamat Email Sobat.
4.  Kolom ke dua "Blog link" isi dengan Alamat Blog/situs  Sobat.
5.  Kolom ke tiga "Platfrom" Pilih Platfrom  Sobat, (blogspot, wordpress, TypePad, dan Other).
6.  Kolom ke tiga "Width", Isilah jumlah LinkWithin yang akan di tampilkan pada Blog/situs Sobat
7.  Centang pada "My blog has light text on a dark background".
8.  Klink GET WIDGET!
9.  Klik Install Widget maka Widget secara Otomatis terpasang di Blog Sobat
10.Simpan dan lihat hasilnya





















MODEL PENELITIAN PENDIDIKAN ISLAM














BAB 19

MODEL PENELITIAN PENDIDIKAN ISLAM

A. Pengertian Pendidikan Islam
Dapat diartikan sebagai perbuatan (hal, cara,dan sebagainya) mendidik: dan berarti pula pengetahuan tentang mendidik, atau pemeliharaan badan, batin, dan sebagainya.
Penggunaan kata tarbiyah untuk arti pendidikan (education) merupakan pengertian yang sifatnya ijtihad (interpretable). Oleh karena itu, penggunaan kata tarbiyah dalam pengertian pendidikan yang umum digunakan tidak ada salahnya. Sebagaimana para pakar pendidikan pada umumnya menggunakan kata tarbiyah untuk arti pendidikan.
Adapun pengertian pendidikan dari segi istilah kita dapat merujuk kepada berbagai sumber yang diberikan ahlio pendidikan. Dalam undang-undang tentang Sistem Pendidikan nasional (UU RI NO.2 Th.1989) dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan dating.
Selanjutnya, Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, mengatakan bahwa pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan pertumbuhan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelect) dan tubuh anak yang antara satu dan lainnya saling berhubungan agar dapatmemajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya.
Dari dua definisi tersebut dapat diketahui bahwa pendidikan adalah merupakan usaha atau proses yang ditujukan untuk membina kualitas sumber daya manusia seutuhnya agar ia dapat melakukan perannya dalam kehidupan secara fungsional dan optimal. Dengan demikian, pendidikan pada intinya menolong manusia agar dapat menunjukkan eksistensinya secara fungsional ditengah-tengah kehidupan manusia. Pendidikan demikian akan dapat dirasakan manfaatnya bagi manusia.
Adapun pengertian islam berasal dari bahasa arab yaitu dari kata aslama, yuslimu, islaman yang berarti berserah diri, patuh, dan tunduk. Kata aslama tersebut pada mulanya berasal dari salima, yang berarti selamat, sentosa dan damai. Dari pengrtian demikian, secara harfiah islam dapat diartikan patuh, tunduk, berserah diri (kepada Allah) untuk mencaoai keselamatan. Pengertian islam dari segi kebahasaan ini sudah mengacu kepada misi islam itu sendiri yaitu mengajak manusia agar hidup aman, damai dan selamat dunia akhirat dengan cara patuh dan tunduk kepada Allah, dan selanjutnya upaya ini disebut sebagai ibadah.
Secara keseluruhan, disini definisi yang bertemakan pedidikan islam itu mengacu kepada suatu pengertian bahwa yang dimaksud dengan pendidikan islam adalah upaya membimbing, mengerahakan, dan membina peserta didikan yang dilakukan secara sadar dan terencana agar terbina suatu kepribadian yang utama sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam. tujuan ini secara hirarkis bersifat ideal, bahkan universal. Tujuan tersebut dapat dijabarkan pada tingkat yang lebih rendah lagi, menjadi tujuan yang bercorak nasional, institusional, terminal, klasikan, per bidang studi, per pokok ajaran, sampai dengan setiap kali melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
B. Aspek-aspek Pendidikan Islam
Dilihat dari segi sejarah dan periode mencakup:
  1. Periode pembinaan Islam yang berlangsung pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
  2. 5
  3. Periode pertumbuhan pendidikan islam yang berlangsung sejak zaman Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam wafat sampai masa akhir Bani Umayyah yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu-ilmu naqliyah.
  4. Periode kejayaan islam (puncak perkembangan) yang berlangsung sejak permulaan Daulah Abbasiyah sampai dengan jatuhnya Baghdad, yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu akliahdan timbulnya madrasah, serta memuncaknya perkembangan kebudayaan islam.
  5. Periode kemunduran pendidikan islam sejak jatuhnya Baghdad sampai jatuhnya Mesir ketangan Napoleon, yang ditandai dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan islam danberpindahnya pusatpusat pengembangan kebudayaan ke duni barat.
  6. Perode pembaharuan pendidikan islam sejak penduduk Mesir oleh Napoleon sampai masakini, yang ditandai oleh gejala-gejala kebangkitan kembali umat dan kebudayaan islam.

C. Model-model Penelitian Ilmu Pendidikan Islam
Dilihat dari segi objek kajiannya, dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
Pertama, ada pengetahuan ilmu, yaitu pengetahuantentang hal-hal atau objek-objek yang empiris,diperoleh dengan melakukan penelitian ilmiah, dan teori-teorinya bersifat logis dan empiris.
Kedua, pengetahuan filsafat, yaitu pengetahuan objek-objek yang abstrak logis, diperoleh dengan berpikir, dan teori-teorinya bersifat logis dan hanya logis (tidak empiris).
Ketiga, pengetahuan mistik, yaitu pengetahuanyang objek-objeknya tidak bersifat empiris, dan tidak pula terjangkau oleh logika. Objekpengetahuan ini bersifat abstrak, supra logis.

Adapun untuk lebih jelas mengenai model penelitian pendidikan islam yaitu dengan beberapa contoh sebagai berikut:
1.Model Penelitian Tentang problema Guru
Dalam usaha memecahkan problema guru, Himpunan Pendidikan Nasional (National Education Association) di Amerika Serikat pernah mengadakan penelitian tentang problema yang dihadapi guru secara nasional pada tahun 1968.
Produser yang dilakukan dalam penelitian tersebut dilakukan dengan cara pengumpulan data yang dilakukan oleh Bagian Himpunan Pendidikan Nasional Penelitian (National education Association) melalui survey pendapat umum guru (opinion survey for teacher) pada musim semi pada tahun 1968 di kalangan guru-guru sekolah negeri yang dijadikan sampel secara nasional.
2.Model Penelitian tentang Lembaga Pendidikan Islam
Salah satu penelitian yang berkenaan dengan pendidikan islam yang berkenaan dengan lembaga pendidikan islam adalah penelitian yang dilakukan oleh Karel A. steenbrink dalam bukunya yang berjudul Pesantren, Madrasah dan Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern yang diterbitkan oleh LP3ES, Jakarta, tahun 1986.
Metode penelitian yang dilakukannya adalah pengamatan (observasi). Sedangkan objek pengamatannya adalah sejumlah pesantren yang berada di Jawa dan Sumatra.
3.Model Penelitian Kultur Pendidikan Islam
Penelitian yang mengambil objek kultur pendidikan Islam khususnya yang ada di pesantren, antara lain yang dilakukan oleh Mastuhu dan Zamakhsyari Dhofir. Untuk mengenal model penelitian yang dilakukan oleh kedua peneliti ini dapat dikemukakan sebagai berikut:
a.Model Penelitian Mastuhu
Penelitian yang bertemakan kultur pendidikan islam yang ada dipesantren dilakukan Mastuhu pada saat menulis disertai untuk program doktor. Penelitian dimaksud berjudul Dinamika Sistem Pendidikan pesantren yang diterbitkan oleh Indonesian Netherlands Coopration in Islamic Studies (INS) pada tahun 1994.
b.Model penelitian Zamakhsyari Dhofier
Model penelitian yang dilakukan oleh Zamakhsyari Dhofier masih disekitar pesantren. Penelitian yang dilakukannya berjudul Tradisi Pesantren tentang Pandangan hidup Kiyai, dan telah diterbitkan oleh LP3ES pada tahun 1982.




















Membuat Daftar Isi












Trik Membuat Recent Post Thumbnail slide













Cara Membuat Footer Menjadi 4 Kolom












 

Browsing Artikel

Pengikut

Total Tayangan Halaman

sinforan's cbox

Recent Posts

Pingbox

Copyright 2010 Situs Informasi dan Pengetahuan - All Rights Reserved.
Designed by Web2feel.com | Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com | Affordable HTML Templates from Herotemplates.com.